Agoda

Friday, October 23, 2015

MyRice, Nasi Liwet Instan Kreasi Hipoci

MyRice, Nasi Liwet Instan Kreasi Hipoci. Hipoci? Makhluk jenis apakah itu? Hahaha.

Maaf ya teman-teman. Hipoci itu bukan sejenis makluk, binatang apalagi robot. Bukaaann!!! Tapiii singkatan dari Himpunan Petani Organik Cianjur.

Keren yaa, singkatannya jadi Hipoci. Begitu enak didengar dan sangat mudah diingat.

Entah siapa yang mengusulkan nama Hipoci ini, yang jelas orangnya pasti kreatif dan produktif. Hahaha.

Nyatanya, Hipoci memang kreatif dan produktif. Binaan PT. Tirta Investama Plant Cianjur ini, berhasil menelurkan Beras Organik sendiri dengan merk MyRice. Bisa dilihat di www.Hipoci.com.


 Tak puas hanya menghasilkan beras organik, Hipoci pun melahirkan kreasi lain, Nasi Liwet Instan!!


Keren?

Yap, keren banget!!

Saya bangga sekali saat melihat para petani yang tergabung dalam Hipoci ini berbondong-bondong menyambut kami saat kunjungan ke pabrik Aqua, di Cianjur, pada 17 Oktober 2015 lalu. Bangga dengan semangat mereka untuk maju. Bangga dengan semangat mereka untuk mandiri dan mengangkat potensi daerahnya.

Hebatnya lagi, mereka mengelola ini semua dari sampah!!

Yes, sampah!

Pernah dengar Bank Sampah yang sekarang sedang banyak digalakkan di beberapa daerah? Nah, Hipoci pun menerapkan hal serupa. Mereka menyebutnya, pengolahan sampah.

Pak Agan, salah seorang yang ditunjuk sebagai pembicara mengatakan "kami dibina oleh Aqua untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat".

Lebih lanjut pak Agan bercerita bagaimana ia, teman-teman di Hipoci dan CSR Aqua bersama-sama menggugah kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah.

Para ibu-ibu yang tergabung dalam Himpunan Wanita Tani (HWT)  diajak bergabung dalam kelompok Bina Lestari. Mereka dibimbing untuk memisahkan sampah organik, anorganik, dan sampah tak terdefinisi.

Sampah organik yang berupa sisa bahan makanan, kertas dan benda mudah terurai lain, diolah menggunakan ramuan khusus hingga menjadi pupuk cair yang dapat dimanfaatkan oleh suami-suami mereka untuk memupuk padi. Hasil panen padi inilah yang kemudian menjadi beras organik karena menggunakan pupuk cair hasil pengomposan sampah organik, bukan pupuk kimia.


Sampah anorganik mereka pisah-pisah dan kumpulkan. Beberapa sampah yang mempunyai nilai jual seperti gelas-gelas atau botol Aqua, mereka jual ke penampung. Beberapa sampah lain yang tak punya nilai jual, mereka olah menjadi kerajinan tangan.

Kreatif kan?

Masyarakat sekitar pun akhirnyaaa menjadi terbiasa melihat sampah dari sisi ekonomis. Mereka jadi bisa membeli bibit dan mendapat uang tambahan.

"Pihak Aqua tidak memberi kami uang,  menurut mereka itu kurang mendidik. Tapi mereka selalu membimbing kami. Selalu mendukung saya dan teman-teman. Pak A (saya lupa namanya) dari CSR Aqua ga pernah bosan mengingatkan dan menyemangati. Ayo pak, kalian pasti bisa!" Tambah pak Agan.

Duh, jadi terharuuuu.

Untuk penyaluran dan pemasaran hasil kreasi Hipoci pun dibantu oleh pihak Aqua. Ada yang disalurkan ke grup Pizza, ada yang melalui AHS, Aqua Home Service. Hipoci juga berusaha memasarkan sendiri dengan mengikuti pameran atau bazaar.

Sayangnya, pak Agan dan teman-teman belum menemukan cara mengolah Beras Organik agar menjadi lebih tahan lama.

"Kami tidak menggunakan pengawet. Jadi tidak bisa tahan lama, dalam waktu tertentu akan muncul kutu. Karena itu kami simpan dalam bentuk gabah agar lebih awet. Baru kami olah saat ada pesanan. Sampai saat ini kami masih mencari cara mengolah yang tepat agar lebih tahan lama tanpa menggunakan pengawet"

Mungkin ada teman-teman yang mau membantu pak Agan dan teman-teman di Hipoci?
Silahkan hubungi beliau di nomor 085861852848

Hingga saat ini, pemasaran Beras MyRice masih dilakukan dalam taraf kecil dan manual karena keterbatasan daya produksi dan distribusi.

Kalau ada yang tertarik membeli atau membantu memasarkan produk petani lokal Cianjur ini, silahkan hubungi pak Agan ya.

Saturday, October 10, 2015

Demi Pengakuan sebagai Food Blogger


Demi pengakuan sebagai Food Blogger. Kalau ditanya, saya ini sebenarnya blogger apa? Hadeuuhh, bingung. Mau ngaku food blogger, sok hebat amat. Postingan kuliner di blog ini belum lah seberapa. Pengalaman mereview food atau resto pun belum lah banyak. Postingan food di Instagram pun ga konsisten, ga dominan macam Hans. Mau sok-sok ngaku Food Blogger? Hadeuuhh ngaca atuuhh.

Pasti kenal Food Blogger yang satu ini :)
Memang, saya punya blog khusus yang didedikasikan untuk segala tulisan berbau kuliner. Mulai dari sharing resep karena hobi utak atik resep, review snack karena hobi ngemil, review resto karena hobi makan *uppss  jika ada undangan ;), review food event karena hobi jalan, atau sekedar berbagi tips seputar dapur atau makanan. Tapi itu belum cukup membuat saya berani menyatakan diri sebagai food blogger, hahaha. Gabung di komunitas Food Blogger udah sejak 2012, tapi tetep ga mau ngaku-ngaku. Hahaha.

Mau eksis sebagai food blogger, masih senin kamis ngisi blog #dapurbunda3f, ga punya kamera canggih pula untuk menghasilkan food fotografi yang ciamik. Mau jadi emak blogger atau blogger lifestyle, ga konsisten di blog #bunda3f. Hahaha. Jadinya blogger apalah apalah :). Walaupun ngeblog dan sharing resep sudah lebih lama ketimbang usia blog ini.

Tapiii, ga ada yang ga mungkin kan? Asal ciptakan peluangmu.

Peluang untuk menjadi food blogger yang dibayar jutaan oleh vendor atau brand memang masih jadi impian. Tapii, ketika ada yang memperkenalkan saya sebagai food blogger, langsung geer ga karuan. Hahaha. Norak yaa?

Ahhh, siapa tahu bisa jadi peluang dan pembuka jalan untuk beneran menjadi professional food blogger? Siapa yang tahu, ya ga sih?

Itulah yang terjadi ketika saya ikut acara Dilmah Challenge. Sempat 3x mengekor tim ke beberapa cafe & resto peserta. Setiap kali dikenalkan, "ini para food blogger yang nanti akan menuliskan review di blognya".

Salah satu suasana penjurian Dilmah Challenge
Walaupun senang dan merasa tersanjung, tapi itu jadi beban juga ketika saya memilih mendatangi tiap peserta demi merasakan sensasinya.

Perjuangan demi mendatangi tiap cafe dan restaurant itu membuat saya hampir tiap hari keluar rumah. Padahal biasanya jadwal keluar cuma 2-3 kali aja seminggu.

Biasa ke mana-mana naik kereta disambung angkot / bus, demi janji pada pemilik resto/ cafe yang akan didatangi, saya bela-belain naik taksi untuk mengejar waktu. Padahal paling takut naik taksi sendiri, takut disasarin karena belum tahu jalan, takut ga bisa pulang kalau kehabisan ongkos. Takut diculik hahaha *lebay.

Tapi itulah, demi sebuah postingan kuliner di blog, saya rela merogoh kocek sendiri datang ke lokasi yang cukup jauh seperti di Pantai Indah Kapuk yang hitungannya hampir 50 KM dari rumah saya. Kalau murni naik taksi dari rumah, bisa habis lebih dari 200rb sekali jalan. Sekali jalan! Hitung sendiri kalau PP yaaa :).

Tak sia-sia jauh-jauh ke Pantai Indah kapuk jika disuguhi ini kan?
Hasilnya, saya tuangkan dalam tulisan Sensasi Smokey Salmon Steak Ala Uncle Thjin

Ada juga kejadian saya harus menunggu hampir dua jam demi disuguhkan menu Challenge. Ada missed konfirmasi dengan penanggung jawab acara. Berkali-kali konfirmasi dan menunggu. Menu pun akhirnya disuguhkan satu per satu. Tapi entah kenapa, sampai kini, cafe ini belum saya tuliskan reviewnya, hahaha. Masih nunggu mood :(. Padahal presentasi minuman dan sajian makanannya unik-unik.

Beberapa menu yang diikutkan challenge di sebuah cafe
Tak jauh dari cafe tersebut, saya dijamu dengan istimewa. Disuguhkan menu satu per satu bagai puteri raja, ditemani oleh F & B Managernya sambil dijelaskan tentang detail menu challenge yang disuguhkan langsung oleh sang bartender!!

dituangin teh loh
Dan entah kenapa, perlakuan istimewa dari staf cafe itu membuat saya akhirnya menghasilkan foto-foto yang lumayan (ga brani klaim bagus, belom jago :) ).


Dengan senang hati saya menuangkannya dalam tulisan Menikmati Coklat Bertabur Emas di Huize Van Wely. Cafe ini menjadi yang pertama saya tulis reviewnya di antara para peserta.

Ada juga cafe dan resto yang sampai dua kali saya datangi. Pertama saya datang bersama team, berikutnya, saya sengaja meluangkan waktu khusus untuk datang sendiri.

Sang chef mendengarkan review dari juri
Resto yang satu menjamu saya bagaikan ratu. Ditemani oleh GM, chef, dan culture liaison dalam satu meja. Ditunggui komentar saya tiap selesai menyuapkan sesendok makanan. Serasa food reviewer professional. Sukses membuat saya grogi setengah mati. Pengalaman ini membuat saya tak ragu menuliskan Rendang Berbungkus Nasi Merah ala Oasis Restauran

Saya juga diperlakukan sangat istimewa di sebuah bistro di bilangan Kebon Jeruk. Berhubung saya awam daerah ini, suami menyuruh saya untuk naik Gojek saja biar cepat dan ga nyasar. Itu pun saya naik gojeknya dari stasiun Palmerah. Kalau langsung dari rumah sih jauuuhhh. Untungnya si abang gojek paham wilayah itu.

Di Bistro nan cantik ini saya disuguhi macam-macam menu di luar yang mereka ikutkan lomba. Sang pemilik bistro langsung yang menemani saya selama sesi icip-icip dan foto-foto. Saking baiknya, membuat saya tak sungkan meminjam macam-macam properti untuk keperluan foto, meminta makanan dipindah, atau seenaknya menggeser meja kursi. Tak segan pula saya naik naik kursi demi mendapatkan flat lay foto. :)


Kesan mendalam dan rasa terima kasih untuk sang pemilik Bistro yang sampai rela meluangkan waktunya, membuat saya tak sungkan menuangkannya ke dalam tulisan es tung-tung jadul versi de Mingle.

Peserta lain? Lagi-lagi ada yang membuat saya menunggu 3 jam dan hampir memutuskan pulang karena sudah malam. Bicara presentasi makanan sih okee, tapi saya butuh mengumpulkan mood menulis, karena hasil fotonya tak sebagus yang saya harapkan. Makanan baru disajikan malam hari, saat sudah tak ada cahaya alami, tinggal mengandalkan lampu resto yang temaram.

Apakah itu membuat saya kapok?


Pengalaman mendatangi hampir semua resto dan cafe di Jakarta selama Challenge itu saya anggap sebuah bentuk tanggung jawab sekaligus perjuangan. Hahaha. Segala suka duka dan halang rintangnya saya jalani dan anggap sebagai tantangan :). Demi eksistensi sebagai Food blogger? Hahaha.

Saya mendapat banyaaak tambahan pengalaman, wawasan sekaligus networking. Bukankah itu sebuah hadiah tak ternilai?

Tulisan ini disertakan dalam Giveaway Cerita Di Balik Blog.