Agoda

Wednesday, April 18, 2018

Ubah Gaya Hidup, Kurangi Bahaya Diabetes

Suatu kali, saya pengen banget makan soto mie langganan yang lokasinya ga jauh dari rumah mama.
"Mas, tukang soto Mie itu ga pernah jualan lagi ya?"
"Memang udah ga jualan lagi, kan sakit, udah lama"
"Oh sakit apa?"
"Diabetes"
"Cuma Diabetes? Kog bisa sampai ga jualan lagi?"
"Ya, diabetesnya udah parah ternyata, luka di kakinya ga sembuh-sembuh. Itu tiap hari rumahnya sampai bau amis karena darah dari lukanya menetes ke mana-mana. Makanya di rumah pun dia ga bisa banyak gerak juga"
"Ya Allah, seerem", saya bergidik.

Beberapa tahun kemudian, tukang soto mie tersebut meninggal.


Diabetes saat ini menjadi penyakit yang berbahaya dan mematikan


Data Riskesdas tahun 2014 menyebutkan bahwa diabetes menjadi perenggut nyawa terbesar ketiga di Indonesia, 6,7%, setelah Stroke (21,1%), dan jantung koroner (12,9%).  Data terkini dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas pada tahun 2017 lalu bahkan menyebutkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah diabetesi terbanyak ke-6 di dunia! 10,3 juta jiwa. Luar biasa. Mbok ya prestasi apa gitu ya, bukan jumlah pasien terbanyak.

WHO sampai memperkirakan angka kejadian diabetes di Indonesia bisa melonjak hingga 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Duuh, jangan sampai deh ya. Angka yang cukup besar yang bisa membebani keuangan negara. Andai 3 trilyun uang negara yang terbuang untuk membiayai penderita diabetes dialokasikan untuk pembangunan dan pendidikan, tentu lebih baik kan?


dr Asjikin Iman Hidayat Dahlan, MHA
dr Asjikin Iman Hidayat Dahlan, MHA


dr Asjikin Iman Hidayat Dahlan, MHA, PLT Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI mengatakan bahwa penderita diabetes berpotensi mengalami berbagai komplikasi penyakit lainnya seperti gagal ginjal, kardiovaskuler, stroke, dsb.

Perempuan beresiko cukup tinggi menderita diabetes. 1 dari 10 perempuan berpotensi menderita diabetes. Saat hamil, ada beberapa perempuan yang bisa mengalami yang namanya Gestational Diabetes Mellitus (GDM), diabetes yang dipicu kehamilan. Biasanya bayi yang dilahirkannya cukup besar, lebih dari 4kg. Baik ibunya, maupun sang anak, akan berpotensi menderita DM type 2, diabetes yang diderita setelah dewasa. Salah satunya dialami dr. Aslina Yuslam yang pernah melahirkan bayi seberat 4,5 kg. Dokter dengan tinggi sekitar 150cm ini kini menderita Diabetes.

Bayi yang lahir dengan berat rendah juga ternyata bisa berpotensi mengalami diabetes lho. Kenapa? Orangtua biasanya fokus menaikkan berat badannya, tapi kadang lupa melakukan kontrol, akibatnya malah bablas, jadi kelebihan berat badan dan pola makannya tak sehat.

Mereka-mereka yang mempunyai resiko tinggi menderita diabetes, entah karena genetik, kehamilan, atau karena gaya hidup, bisa diturunkan resikonya. Yang penting mau mengubah gaya hidup, hidup lebih sehat dan menerapkan pola hidup CERDIK yang sudah digagas Kementerian Kesehatan sejak tahun lalu.

Kebanyakan penyebab diabetes adalah karena gaya hidup yang kurang sehat. Banyak mengkonsumsi gula, minum atau makan yang manis-manis dan kurang gerak/aktifitas fisik.



Menurut dr. Em Yunir, ahli Endrokinologi dari FKUI, idealnya, total waktu yang dibutuhkan untuk olahraga, sekitar 150 menit dalam seminggu. Itu total ya. Sebaiknya dicicil tiap hari, bukan dituntaskan cuma sehari aja. WHO menyarankan untuk melakukan aktifitas fisik dengan intensitas sedang selama 60 menit dalam sehari.


Peran aktivitas fisik/olahraga


1. Menurunkan resiko penyakit Kardiovaskuler (jantung)

2. Meningkatkan penyerapan kalori sehingga berat tak bertambah

3. Meningkatkan kendali gula darah

4. Menurunkan kebutuhan atau ketergantungan insulin

5. Tubuh lebih bugar dan sehat

Kalau dari beberapa info yang saya baca, olahraga dapat melancarkan peredaran darah dan meningkatkan supply oksigen ke otak, sehingga tuhuh menjadi lebih segar dan otak pun lebih fresh, mampu berpikir lebih jernih.



Gaya Hidup dan Diabetes


Sebelum mengikuti acara bincang-bincang "Melindungi keluarga dari Diabetes" yang diadakan di gedung P2PTM daerah Percetakan negara pada 13 April 2018 lalu, kami dapat simulasi games tentang berapa kandungan gula jika mengkonsumsi teh manis, donat, dsb.



Sebagai patokan, diberi petunjuk kandungan gula yang terdapat pada makanan atau minuman tertentu. Misalnya 1 pcs martabak itu kadar gulanya 12gr, kopi/teh dengan campuran SKM itu mengandung gula 21gr. Nah, coba dihitung-hitung sendiri konsumsi gula yang kamu asup dalam sehari.

Maksimum intake gula dalam sehari itu cuma 50 gr saja. Setara dengan 4 sendok makan. Itu asupan maksimal dalam sehari lho ya. Ya bisa dibayangkan sendiri kalau masuknya lebih dari itu.


Saya langsung menghitung-hitung jumlah gula deh kalau mau makan. Hahaha. Untungnya sih gula darah saya masih terhitung normal pagi itu dalam kondisi belum sarapan, 94, kurang dari 120mg/dl. Tapi, saya tetap perlu waspada, saya memiliki faktor resiko diabetes genetik dari papa.

Untungnya Papa selama ini menjalankan hidup sehat. Rajin makan sayur dan buah, mengurangi konsumsi gula (papa menggunakan gula rendah kalori), minum jus buah tanpa gula, dan membatasi asupan karbohidrat.

Pak tuo, begitu kami biasa memanggil kakaknya papa yang meninggal karena diabetes, doyan banget minuman kemasan sachet, entah kopi sachet, kopi susu sachet, teh sachet, pokoknya segala minuman kemasan yang kadar gulanya cukup tinggi.

Menurut papa, pak tuo sudah bolak balik dinasehati untuk mengurangi ketergantungannya terhadap minuman manis. Tapi cuma masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Pak tuo juga susah disuruh mengubah gaya hidupnya untuk banyak mengkonsumsi sayur dan buah, mengurangi konsumsi gula.

Memang sih, seperti yang disebut dr. Em Yunir, yang sulit itu mengubah gaya hidup. Padahal, gaya hidup tak sehat ini lah yang membuat anak-anak masa kini juga banyak yang terjangkit diabetes.

Adik ipar suami, juga penderita diabetes akut, gula darahnya bahkan pernah melonjak sampai 600an, pingsan, dan akhirnya dirawat di rumah sakit. Adiknya suami ini bahkan suntik insulin sendiri karena kadar gula darahnya sulit stabil *cmiiw. Tapi, si adik ini agak susah diajak mengubah gaya hidup. Masih suka makan dengan karbohidrat tinggi, suka minuman dan makanan yang manis.

Ubah Gaya Hidup 


Kembali lagi, keinginan mengubah gaya hidup ini harus muncul dari diri sendiri. Peran sosialisasi tentang diabetes memang harus selalu dilakukan, agar semakin banyak orangtua punya kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat dan menggulirkan ilmu ini ke anak-anak dan keluarganya.

Salah satu contoh bagus yang saya perhatikan sudah dilakukan di lingkungan Kementerian Kesehatan adalah penerapan pola konsumsi dengan menu gizi seimbang. Misalnya cemilan yang disuguhkan dan disediakan dalam bentuk aneka buah atau aneka jajanan kukus. Kemudian untuk minuman manis seperti teh atau kopi, disediakan pilihan gula rendah kalori. Jika menyediakan menu prasmanan, maka posisi nasi dan karbohidrat di urutan terakhir, sementara posisi sayur di awal.

Menurut dr. Asjikin, dengan cara ini, orang akan mengambil sayur terlehih dahulu. Biasanya pilihan sayur diberikan lebih banyak, baru kemudian lauk. Saat sampai di meja nasi, piringnya sudah penuh dengan aneka sayur dan lauk, akhirnya pengambilan nasi atau karbohidrat menjadi lebih sedikit. Wohoo, iya juga ya, ini bisa jadi contoh nih.

Oleh karena itu pula, Nutrifood salah satu produsen yang banyak memproduksi makanan rendah kalori, cukup concern mengajak para stake holder, corporate, RS, hingga masyarakat untuk melakukan sosialisasi pentingnya mengubah gaya hidup.



Hayuk lah kita ubah gaya hidup. Baidewai busway, saya baru ngeuh kalau sekarang Nutrifood juga punya kopi sachet yang  rendah kalori. Wah, boleh juga nih buat papa saya yang selalu fanatik sama produk gulanya Nutrifood ini.


Buat yang doyan banget kopi manis, ini bisa jadi alternatif ngopi cantik yang aman, right? ;).

7 comments:

  1. Aku sudah lama sekali nggak masukin gula ke minuman, tapi kalau ke makanan kayak kue gitu masih tapi dengan porsi yang sangat sedikit. Bahaya sakit gula ini memang mengerikan sih ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, bahayanya mengerikan, bisa berujung kematian

      Delete
  2. Pernah dengar juga, kalau sudah lewat 40 tahun gak kena gula, biasanya sudah aman sih, tapi aku setuju gaya hidup sehat itu kudu.

    Intinya seimbang ya.

    Kalau aku pribadi suka banget tuh sama yang manis-manis, tapi karena aktivitas di rumah dikerjakan sendiri, dan gemar minum air putih hangat, alhamdullillah, sudah 'jelita begini', kadar gula masih normal. :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. aiihh, kita sama mba anna, saya juga suka makananan yang manis-manis, tapi khusus minuman, aku batasin, aku lebih suka minum air putih

      Delete
  3. Aku nggak terlalu suka makanan dan minuman manis, meskipun tetep susah nolak coklat :D

    Tapi dengan informasi ini jadi lebih hati-hati deh. Soalnya diabetes ternyata nggak pandang usia ya..

    ReplyDelete
  4. PApah mertua saya terkena diabetes. Suami udah mulai mengubah gaya hidupnya. Makanan yang manis udah banyak dikurangi. Memang harus disiplin kalau udah ada risiko diabetes

    ReplyDelete
  5. Ups aku lagin makan cookies plus teh manis nih, ngeri kemanisan.. Olahraga ahh, nyuci baju bocah 😂😂

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir, tinggalkan komentar agar mudah silaturahmi. Komentar merupakan apresiasi bagi saya.

Jangan tinggalkan link hidup, terima kasih :).

Tertarik kerjasama dengan Advencious?
Kirim email ke m4y4mf@yahoo.com yaa