Agoda

Thursday, August 30, 2018

Asian Games 2018 & Sport Tourism Indonesia

Perhelatan akbar kelas dunia, Asian Games 2018 sedang berlangsung di Jakarta dan Palembang selama 18 Agustus 2018 - 2 September 2018. Selama 2 pekan ini kita akan disuguhkan pertandingan olahraga kelas dunia. 45 negara peserta euy. Mulai dari Malaysia, sampai Tajikistan.



Saat upacara pembukaannya, alias Opening Ceremony Asian Games 2018, dunia netizen begitu ramai. Mulai dari yang super kagum, sampai yang super julid *ehgg. Ada yang menganggap penyelenggaraan Asian Games 2018 ini sebagai pemborosan dan cuma buang-buang duit. Hmm. Apa iya pemborosan?

Nih ya, coba dipikir-pikir lagi, emangnya segitu banyak atlet yang datang bertanding itu cuma akan ongkang-ongkang kaki aja di Indonesia? Cuma ngarep dibayarin dan jalan-jalan gratis? Oh tidak!

Namanya atlet bertanding itu pasti lah butuh refreshing, butuh istirahat, butuh hiburan. Ga mungkin selama mempersiapkan pertandingan atau sesudah bertanding mereka cuma ngendon aja di kamarnya. Apa ga bosen? Apa ga stres?

Seminimalnya mereka akan curi-curi waktu untuk jalan-jalan atau sekedar jajan oleh-oleh. Mumpung nih, mumpung lagi dibayarin negaranya buat berkunjung ke negara orang. Masa' sih mau melewatkan waktu untuk menikmati keindahan negara tetangga? Kapan lagi? Belum tentu besok-besok akan dibayari lagi ke negara yang sama.

Itu baru dari sudut pandang atlet lho ya. Belum lagi kru offisialnya, keluarganya, supporternya, atau kru-kru lainnya. Pasti mereka juga akan menyempatkan buat jalan-jalan dan jajan.

Ini lah yang dikenal dengan istilah sport tourism. Bahwa penyelenggaraan sebuah tournament atau event olahraga pun berpotensi mendulang turis. Turis yang datang ini tentu lah akan menghabiskan uangnya di negara tujuan. Entah untuk akomodasi, transportasi, hingga jajan. Sedikit atau banyak pasti akan menyumbang devisa bagi negara.

Kalau ga mendulang dollar, ga mungkin lah Singapore mau menyelenggarakan pertandingan dunia Moto GP *cmiiw.  Penyelenggaraan eventnya kan pasti menelan banyak dana, belum lagi biaya untuk pembuatan venue. Duuh itu pasti biayanya gedhe. Tapi, mereka mau lho bikin tiap tahun. Karena ya itu tadi, penyelenggaraan event sport seperti ini selalu menarik kunjungan wisata. Turis yang sengaja datang untuk nonton dan pada akhirnya menghabiskan banyak uang di sana. Mulai jajan di hotel sampai jajan di kaki lima. Mulai jajan suvenir, sampai jajan berbagai produk.



Salah satu contoh kecil bagaimana event Asian Games 2018 ini sudah menjadi salah satu bentuk sport tourism Indonesia, ada 4 turis asal Amerika yang sengaja jauh-jauh datang untuk menonton Opening Ceremony Asian Games 2018 seperti liputan dari liputan6.com ini https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/3622438/tak-dapat-tiket-pembukaan-asian-games-lima-turis-as-jadi-pelukis-wajah-dadakan-di-gbk. Para turis asal Amerika ini sengaja datang untuk menghadiri pembukaan Asian Games 2018. Sayangnya, mereka kehabisan tiket. Karena tak ingin sia-sia, mereka tetap bertahan di GBK dan menggelar "lapak" lukis wajah.

Contoh lainnya, CNBC menuliskan "ulah atlet raja minyak" yang enggan menggunakan fasilitas hotel yang disediakan panitia dan malah memilih menginap di hotel pilihannya sendiri yang rate per malamnya di kisaran 1-1,5juta. Mereka membooking setidaknya 25 kamar dengan biaya sendiri! https://www.cnbcindonesia.com/news/20180825181425-4-30222/atlet-asian-games-sewa-hotel-sendiri-sampai-kalap-belanja/2

Nah...nah, kalau sudah begini, pemerintah daerah setempat kan yang mendulang rejeki? Negara penyelenggara, kan? So, sport tourism Indonesia ini juga bisa mendulang devisa. 

Contoh sukses lain sport tourism Indonesia yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir adalah Event tahunan Balap Sepeda Tour de Singkarak, Jakarta Marathon, Bali Marathon, Indonesia Open, dst. Event-event olahraga skala nasional dan internasional ini berhasil menarik peserta dan turis asing untuk datang dan memberikan support sekaligus menikmati keindahan alam daerah tujuan plus membelanjakan uangnya di Indonesia ;). Ahay

So, jangan remehkan kekuatan sport tourism Indonesia. Jika digarap lebih serius dan rutin, tentu akan semakin menjanjikan. Bukan ga mungkin efek jangka panjangnya mereka akan kembali lagi someday, khusus berkunjung ke Indonesia, menikmati keindahan alam dan keramahan penduduknya, dengan biaya sendiri!

Saturday, August 18, 2018

Nongkrong Seru di Bands Cafe & Resto

Nongkrong, makan-makan, ngobrol-ngobrol, atau sekedar kumpul komunitas, rasanya sudah ga asing lagi dilakukan, ya ga sih? 

Beberapa tahun terakhir ini memang trend nongkrong di coffee shop, cafe, semakin meningkat seiring meningkatnya kebutuhan bersosialisasi, menjalin networking, atau meeting kecil-kecilan.

Peluang ini lah yang ditangkap oleh Bands Cafe & Resto yang baru saja Grand Opening tanggal 6 Agustus 2018 lalu. Cafe yang terletak di kawasan Super Blok Kemayoran ini dihadirkan untuk mengakomodir kebutuhan cafe yang masih sedikit di seputar Kemayoran.

Pada 11 Agustus 2018 lalu, beberapa blogger diundang khusus untuk diperkenalkan dengan menu-menu andalan mereka.


Bands Cafe & Resto


Menurut pak Teddy, salah satu owner, Bands Cafe & Resto ini didirikan dengan dasar community cafe. Cafe ditujukan sebagai tempat yang nyaman bagi berkumpulnya suatu komunitas. Entah komunitas bermotor, komunitas Harley, komunitas otomotif, komunitas musik, komunitas olahraga, komunitas seni, dan sebagainya.



Tak heran, cafe ini mempunyai ruangan indoor yang luas dan nyaman. Pun punya ruang outdoor yang juga cukup banyak. Ada private room juga jika ingin mengadakan acara dengan ruang tertutup. Yang keren, mereka punya panggung yang bisa digunakan untuk acara-acara tertentu, misalnya acara musik, atau sekedar nyanyi-nyanyi.






Di cafe ini juga ada toko kecil-kecilan nih. Menjual beberapa asesoris seperti casing atau ring handphone. Ada juga dijual asesoris motor seperti helm atau jaket kulit.




Kalau pengen tatoo, mereka juga punya ruang khusus untuk tatoo, mau yang permanent atau temporary.

Pengen dibikinin lukisan langsung dari pelukis? Ada juga. Harganya ga mahal kog, lukisan sketsa di talenan cuma 200ribuan aja. Bisa sambil ditungguin atau diambil beberapa hari kemudian. Pokoknya, lukisan disini bisa minta on the spot lah. Sembari menunggu lukisan jadi, bisa lah ngopi-ngopi dulu sambil ngemil. Asyik kan?



Menu Andalan

Bicara menu andalan di cafe ini cukup banyak. Pastinya beberapa makanan adalah makanan khas Indonesia, seperti sop buntut, nasi goreng, dan sebagainya. 
  
Sop Buntut

Sop buntut ala bands cafe & resto ini rasanya kaya rempah dengan daging buntut yang empuk dan mudah dikelupas. Terasa juicy karena proses pemasakannya yang pas.

Beberapa makanan lain adalah makanan western, seperti burger, steak, dan sebagainya. Ciri khas burger dari Bands Cafe & Resto ini adalah cream cheese yang melimpah dan daging burgernya yang tebal dan benar-benar terbuat dari daging giling pilihan. 

Garlic Butter Cheese Burger

Makan satu burger ini sendiri rasanya kenyang banget lho, lha dagingnya padat banget. Ada cheese burger biasa, ada juga Garlic Butter Cheese Burger. Ciri khasnya ada pada garlic butternya, bawang putih yang diiris tipis-tipis dan ditumis dengan butter.

Pengen pasta? Ada kog. Ada Spaghetti Bolognaise yang melimpah banget saus bolognaise daging giling dan keju parutnya.




Beberapa menu merupakan perpaduan makanan tradisional dengan western. Semacam east meet west gitu lah. Macam nasi goreng tropical seperti yang sedang dipegang buncha ini.




 Lagi malas makan berat dan cuma pengen ngopi atau cuma mau minum-minum santai aja? Ada banyak nih pilihan kopi, latte, juice, teh, sampai milkshake. 



Salah satu minuman yang agak unik dan belum saya temukan di cafe lain adalah milkshake red velvet ini. So, begitu ditawari mau pesen minum apa, pilihan saya langsung jatuh ke minuman satu ini.



Gimana? Udah mulai ngiler? Cuss aja ke Superblok Mega Kemayoran Kav B-6 ya

Saturday, August 4, 2018

No Bake Strawberry Cheese Cake, Cooking Class

Pada dasarnya, saya bukan lah orang yang hobi memasak. Tapi bukan juga orang yang malas turun ke dapur. Gak gila dapur, tapi suka coba-coba resep baru. Saya suka membuat kreasi resep, atau mengolah makanan tertentu jadi makanan baru atau makanan yang berbeda. Intinya sih, saya suka sesuatu yang baru.

Itu juga kalau lagi ga malas. Kalau malasnya kumat, ujung-ujungnya ya masak yang mudah-mudah aja. Hahaha.

So, ketika dapat kesempatan ikutan Cooking Class, siapa yang bisa nolak? Apalagi cooking class yang hand on gitu. Langsung praktek, langsung coba, dan hasilnya boleh dibawa pulang. Huaaa. Jadi inget jaman masih rajin ikut-ikut latihan bareng (latbar) bareng temen-temen komunitas masak, NCC Pamulang.

Sore itu, 30 Juli 2018, saya bersama beberapa teman, mendapat kesempatan untuk mengikuti #ILotteHangOut. Kali ini kami belajar memasak bareng Putri Habibie, pemilik private cooking clas @ladybakecookingclass. Putri yang merupakan salah satu cucu B.J. Habibie ini memang biasa mengadakan cooking class. 

Biasanya, peserta cooking classnya Putri adalah para artis, selebriti, ibu rumah tangga maupun remaja yang ingin belajar masak secara pribadi. Putri pintar sekali mengolah resep dan mengajarkan cara memasak yang mudah. Dengan mengikuti kelasnya, orang yang baru belajar masak sekali pun, akan langsung merasa bahwa memasak itu sama sekali ga rumit.

Pada cooking class yang diadakan di sore hari jam 3an itu, kami belajar sebuah resep cake yang sederhana dan tanpa oven. No Bake Strawberry Cheese Cake. Berikut resep dan cara memasaknya ya


No Bake Strawberry Cheese Cake



Bahan 
10 Fresh Strawberries
150gr Cream Cheese
50 gr Greek Yoghurt
1 sdm Gula Halus untuk Cream Cheese
1 sdm Gula Pasir
1 sdt Vanilla 
½ cup Whipped Cream 
Extra Whipped Cream untuk hiasan
Biskuit Marie Regal

Cara membuat

1. Iris-iris kasar buah strawberi, masukkan ke dalam mangkuk kecil, tuangkan gula pasir. Aduk rata dan sisihkan.
2. Hancurkan biskuit marie regal, bisa halus atau semi kasar, sesuai selera aja. Sisihkan. 
3. Campur cream cheese, vanilla, greek yoghurt, dan gula halus dalam mangkuk besar, aduk rata. Kemudian, masukkan ½ cup whipped cream, aduk pelan-pelas sampai rata. Jangan terlalu keras mengaduk, supaya whipeped cream ga pecah. Sisihkan.
4. Siapkan wadah alumunium, atau bisa juga jar atau gelas kaca. Pada lapisan pertama, masukkan remahan biskuit. 
5. Berikutnya masukkan adonan cream cheese untuk lapisan kedua. 6. Tutup permukaan lapisan kedua dengan cacahan strawberi. 
7. Terakhir, hias dengan whipped cream dan sisa potongan strawberi.

A post shared by advencious.com (@advencious) on

Taraaa, no bake cheese cake sudah bisa disajikan. Kalau mau lebih mantap, masukkan deh ke dalam kulkas. Rasanya akan lebih creamy. Kalau mau makan, gunakan scoop atau sendok.

Bagaimana? Gampang kan ya?

Oh ya, greek yoghurt yang kami gunakan saat itu menggunakan Heavenly Blush yang creamy. Rupanya, salah satu kelebihan Yoghurt adalah tinggi kalsium dan rendah lemak. Kombinasi ini bagus banget untuk program diet. Kalsium bisa menurunkan hormon kortisol, sehingga ga mudah stres. Asam amino yang dikandung yoghurt bisa membantu meningkatkan pembakaran lemak. 

Greek Yoghurt ini bagus lho buat membuat kenyang lebih lama. Saya pernah nyoba buat sarapan, dan benar, sekotak greek yoghurt cukup banget bikin kenyang.

Beli Heavenly Blush dimana? di ilotte.com dong. Kan bisa beli via lottemart, barang akan bisa diantar dalam hitungan 3 jam. Asyik kan?

Ada yang sudah pernah nyoba belanja di ilotte.com? 

Jalan-jalan ke GIIAS 2018 booth Wuling

Sabtu siang yang menyenangkan. Saya jalan-jalan ke pameran mobil terbesar seAsia, GIIAS 2018. Pameran mobil, beberapa mobil low MPV, yang tiap tahun diselenggarakan di ICE BSD ini selalu menyedot perhatian.

Walau lokasinya nun jauh di daerah BSD, nyaris ke Cisauk, kabupaten Tangerang, tetap saja antusiasme pengunjungnya luar biasa. Padahal daerah ICE BSD ini tak ada angkutan umum, kecuali shuttle gratis yang disediakan penyelenggara.

Sabtu siang itu sengaja saya ke stasiun Rawabuntu, stasiun terdekat yang mudah dijangkau, sekedar ingin menjajal shuttle gratis yang disediakan penyelenggara GIIAS 2018. Ternyata bukan cuma saya yang sedang menunggu. Ada puluhan orang yang juga sedang menanti dengan wajah gelisah. Mereka rata-rata datang berombongan. Ada yang sama teman-teman, ada yang sama anak-anak, ibu bapak, atau bersama pasangan.

Jika melihat pengumuman di papan, harusnya sih shuttle datang tiap jam, mulai jam 10 pagi. Tapi rupanya, tanpa jadwal khusus. Shuttle bisa datang kapan saja. Setelah melewati 3 shuttle yang penuh, saya perhatikan, dalam 10-15 menit sekali, ada 1-2 shuttle yang datang menjemput hingga ke dalam parkir utara stasiun Rawabuntu itu.

Sampai di GIIAS 2018, saya mengamati antusiasme pengunjung yang datang beramai-ramai. Saya takjub. Tiket weekend 100.000 per pengunjung kog kayaknya terasa murah. Kalau 1 keluarga mengajak 5 orang, berarti mereka kan merogoh kocek 500ribu. Ckckck, demi menonton pameran mobil? Hm, entah lah. Saya lupa juga menanyakan mereka satu per satu. 

Besok kalau dapat kesempatan ke GIIAS 2018 lagi, saya mau tanya pengunjungnya ahh. Apa yang menyebabkan mereka rela merogoh kocek 100.000 demi menyaksikan pameran mobil. Jiaaah, iseng banget ga sih. Tapi asli ini bikin penasaran, secara saya perhitungan banget sama uang 100.000. Buat dapetinnya pontang panting boo, hahaha.

Oke, singkat cerita, saya pun "parkir" dulu di booth Mobil 123, niatnya sih mau ikut kuisnya. Tapi berakhir takjub lihat salah satu pengunjung berhasil dapat hadiah handphone Samsung J7 Prime! Duh ya Allah, saya mupeng. Handphone saya sudah sering hang. Padahal segala aplikasi juga udah dihapus. Ya, maklum lah ya, handphone jadul ram 1Gb. Masih bagus sanggup diajak "kerja". Bisa tetap digunakan saat deadline kerjaan datang *curhat detect. Ya, mudah-mudahan dapat rejeki handphone lagi ya *aamiinkan saudara-saudara.


Penasaran dengan Mobil Low MPV

Puas berkeliling area GIIAS 2018 yang super luas, dari hall 1 sampai hall 10, saya akhirnya ke boothnya Wuling yang saat itu sedang memamerkan Wuling E100.     






Wuling E100 ini kabarnya laris manis di negara asalnya sana, Tiongkok. Mobil kecil mungil bermuatan 2 orang ini merupakan mobil listrik berdaya tahan 9 jam, atau jarak tempuh 200 km. Sayangnya, mobil ini belum bisa masuk ke Indonesia karena adanya beberapa regulasi yang harus dipenuhi. Ya, sabar-sabar aja menunggu kabar ya. Mobil lucu ini kan cucok buat jalan-jalan ke mall atau pasar berdua Falda. Buat yang ngantornya biasa pakai mobil sendirian, keknya lebih cucok naik ini. Atau emak-emak yang antar jemput anak sekolah, bisa pilih ini juga buat alternatif.

Selain mobil kecil itu, Wuling rupanya juga memajang SUV yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, entah di akhir tahun 2018, atau awal tahun 2019. Sport Utility Vehicle ini rupanya dinanti banyak orang. Itu ga sengaja saya temukan saat lagi buka-buka instagramnya Wuling. Banyak komen-komen penggemar Wuling yang menanyakan kapan Wuling akan meluncurkan seri SUV tersebut. Rupanya penggemar Wuling di Indonesia menantikan mobil berukuran sedang berkapasitas 4-5 orang. 


Wuling & Mobil Low MPV


Walau pemain baru di Indonesia, Wuling motor cukup serius menggarap pasar Indonesia. Buktinya, mereka langsung membuat pabrik di Cikarang dan mendirikan hingga 80 dealer di seluruh Indonesia, hanya dalam jangka waktu 1 tahun. Ini bukti keseriusan Wuling berinvestasi di Indonesia. Wuling ingin memerikan pelayanan after sales yang baik, garansi yang membuat pelanggan tenang.

Pantas saja lah jika penjualannya berhasil mencapai 14.000 unit dalam 1 tahun. Prestasi ini pun sampai diganjar penghargaan Rookie of the year (2018) oleh majalah mobil motor.

Padahal, hasil penjualan segitu banyak, cuma dengan 2 jenis mobil MPV aja lho ya. Confero dan Cortez. Jenis mobil segala aya, alias multi pusposed Vehicle ini dibanderol di kisaran harga 130 jutaan, sampai yang paling mahal di kisaran 200 jutaan saja. Mobil MPV murah.

Wuling tampaknya tahu betul, masyarakat Indonesia ini rata-rata keluarga besar, senengnya pakai mobil keluarga berjenis Low MPV yang murah, tapi bisa mengangkut banyak orang dan mengangkut apa aja. Mulai angkut keluarga, sampai angkut barang.

Saya pun senengnya jenis-jenis MPV murah sih, mobil keluarga. Pan bisa angkut mama papa, dan 3f jalan-jalan ke luar kota. Aamiin.

Kalau sobat advencious, senengnya jenis mobil yang mana nih? MPV atau SUV?

Friday, August 3, 2018

Serunya Konser The Professor Band UI

The Professor Band? Bandnya professor? Professor main band? Atau musisinya udah sekelas professor ilmu musiknya? Halah ribet ya. Tapi itu lah yang ada dalam pikiran saya saat mendengar akan diadakannya konser The Professor Band (TPB).

Dalam bayangan saya, ini professor pada ngapain sih. Main band? Sekedar unjuk kebolehan, atau konser beneran? Udah professor kog ya masih main musik. Kurang sibuk? *ehhh

Ternyata di akhir sesi saya baru paham, kenapa sih para professor-professor ini main band.


Sejarah The Professor Band


Namanya manusia tuh ya, ada otak kanan dan ada otak kiri. Bisa serius, tapi boleh juga dong, santai. Nah, demi menyeimbangkan kehidupan, ga melulu berkutat dengan diktat, buku, dan tugas-tugas mahasiswa, para professor-professor UI pun berkumpul untuk sekedar menyalurkan hobi bermusik. 
Awalnya sih cuma iseng-iseng aja para professor dari fakultas FISIP UI ngumpul di tahun 2003. Ga ada wacana serius mau bikin konser segala macam. 

Seiring waktu, para professor yang hobi bermusik ini lantas memantapkan diri untuk mendirikan The Professor Band. Anggota awal yang hanya para professor UI dari fakultas FISIP pun berkembang menjadi professor UI dari berbagai fakultas dan program studi. Bahkan beberapa mahasiswa berbakat musik juga turut dilibatkan.


Konser The Professor Band



Langkah The Professor Band makin lama makin luas. Bukan lagi sekedar di lingkungan UI, tapi merambah juga ke luar lingkungan kampus. Bahkan melanglang hingga ke mancanegara. Beberapa kali TPB diundang konser di US dan negara-negara lainnya. 

Pada 27 Juli 2018 lalu, TPB kembali mengadakan konser. Kali ini di gedung Makara Art Centre. Gedung kesenian yang sengaja dibangun UI Depok untuk berbagai pertunjukan dan acara kesenian.

Yang lucunya, waktu saya dan Falda mencari gedung Makara ini, ada yang ngga tahu. Saat saya tanya gedung Makara Art Centre, pak satpamnya ga ngerti, malah bilang "oh, gedung kesenian kali ya? Ada di sebelah sana bu". Karena ragu-ragu, saya bertanya pada mahasiswa yang lewat tentang lokasi gedung kesenian. Ajaibnya mereka semua bertanya-tanya, dimana letak "gedung kesenian". Tak ada satu pun yang bisa menunjukkan letak "gedung kesenian itu". Begitu saya tanya "Makara Art Centre", baru pada ngeuh. "oh, kalau Makara Art Centre sih di situ bu."

Duh, beda generasi ya. Pak satpam tahunya gedung kesenian. Tapi generasi muda kenalnya Makara Art Centre :)

Akhirnya saya berhasil menemukan gedung Makara Art Centre yang lokasinya ga jauh dari stasiun Pondok China. Posisi gedungnya persis berhadapan dengan Danau UI, ga jauh dari masjid UI.

Konser Feat Koes Plus & The Panbers


Lagu-lagu yang dibawakan TPB pun beragam, mulai lagu jazz, pop, dsb. Umumnya lagu-lagu oldies, tahun 1980 -  1990an.

Khusus konser TPB kali ini, mereka sengaja membawakan lagu-lagu Koes Plus dan The Panbers. Tak heran jika konsernya bertajuk "Tribute To Koes Plus & The Panbers"

Lagu Koes Plus dan The Panbers dibawakan secara bergantian mulai pukul 16.00 - 18.00. Para penyanyi yang membawakan lagu berganti-ganti, mulai mahasiswa UI, anak-anak professor, hingga ibu-ibu rektorat UI.

Lagu-lagu lawas pun berkibar di seantero gedung. Kami para penonton pun ikut larut membawakan lagu semacam Kisah sedih di hari minggu, Ayah. Untungnya sih pada bagian background panggung terpampang layar besar yang menampilkan lirik lagu. Kami seakan-akan diajak bernostalgia sambil berkaraoke diiringi The Professor Band!

Pada akhir acara, saya kaget melihat layar itu menampilkan sosok Oom Yok Koeswoyo. Ya ampun, ternyata sejak tadi oom Yok ada di antara para penonton. Huaaa, segala haru melanda, bahagia, bangga, takjub menyaksikan legenda musik Indonesia yang masih hidup.

Oom Yok Koeswoyo pun diminta maju ke atas panggung untuk turut bersama menyanyikan lagu pamungkas, Boedjangan.



Lagu Pamungkas, Boedjangan, karya Koes Plus, menjadi penutup yang manis dari konser The Professor Band di Makara Art Centre UI Depok. Seluruh penonton ikut larut bersama alunan musik dan lagu yang ternyata juga dihadiri salah satu personil Koes Plus yang masih tersisa, oom Yok Koeswoyo. Sukses selalu The Professor Band, menjadi inspirasi bagi bidang akademisi dan pendidikan. Bahwa hidup hendak lah seimbang, tak melulu sibuk dengan otak kiri, tapi juga harus mengaktifkan otak kanan. Tak melulu sibuk dengan kognitif, tapi harus mengaktifkan afektif. Thanks prof, telah menunjukkan pada kami, bahwa profesor itu tak harus kaku, tapi bisa juga diajak santai begini. Yuuk para mahasiswa-i, manfaatin gedung kesenian yang udah dibangun dengan megah ini dengan karya-karya seni lainnya. Pesan profesor loh ini. #laguindonesiajayadinegrisendiri #TPBbelajarbermainbermusik
A post shared by Maya Siswadi (@mayasiswadi) on


Ahhh, hati saya rasanya penuh banget hari itu. Senang bisa ikut menyanyi bersama, joget bersama, nostalgia bersama. Mengenang masa-masa muda. Hiahahaha.

Saking senangnya, saya sampai lupa memanfaatkan moment, foto bersama dengan oom Yok. Huaaaa...


Meet & Greet with TPB


Setelah selesai konser, kami dapat kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan para professor TPB ini.


Melalui tanya jawab, terungkap jika persiapan mereka untuk sampai bisa konser ini cukup singkat, cuma sempat 5x latihan.

Untuk mengarahkan dan menggarap permainan para professor ini, dilibatkan lah R. Septa Suryoto Ssn. sebagai music director.

Oh ya, The Professor Band juga udah punya album loh. Walau bukan lagu sendiri, tapi musiknya digarap dengan serius.

TPB memang belum punya lagu sendiri. Tapi, itu ga menyurutkan mereka untuk tetap berkarya kan?