Agoda

Wednesday, November 20, 2019

Travelling dan Sembelit

Beberapa tahun terakhir ini, kegiatan travelling pada sebagian besar orang sudah jadi semacam kebutuhan. Sampai muncul anekdot "mainnya kurang jauh sih loe", atau "kurang piknik sih jadi begitu".

Kegiatan travelling, piknik, bukan lagi sekedar kegiatan sederhana yang ga perlu direncanakan. Pergi berlibur, jalan-jalan, jadi semacam kebutuhan untuk menyeimbangkan kehidupan. Saat sudah terlalu overload, liburan dibutuhkan untuk membuat seseorang tetap waras dan tak terlalu stress. Bahkan beberapa perusahaan ada yang setengah memaksa karyawannya untuk mengambil jatah libur, menyuruhnya untuk piknik. Harapannya, pulang-pulang ia membawa energi baru dan mampu bekerja lebih maksimal.

Dari sudut kesehatan mental pun perlu lho pergi berlibur itu. Entah sekedar di dalam kota, atau kabur ke luar kota. Liburan akan membuat kadar ketegangan alias stress menjadi turun. Balik-balik dari liburan pun jadi lebih fresh, bisa berpikir lebih jernih dan ketemu banyak ide.

So, siapa mau liburan?

Saya sebenarnya pengen lebih sering liburan ke luar kota. Tapi apa daya. Sejak anak-anak mulai sekolah, liburan ke luar kota baru bisa dilakukan saat libur sekolah tiba. Kalau mau maksa libur juga, nyari kalender dan lingkarin tanggal-tanggal long weekend atau hari kejepit *ehh.


Saat saya liburan ke Malang dan Jogja beberapa waktu lalu, itu manfaatin libur maksa, hahaha. Kejepit bukan, libur sekolah apalagi. Tapi, berhubung udah overload, libur akhir tahun ga kemana-mana, pecah juga bisul. Musti jalan ke luar kota deh biar agak warasan. 

Masalahnya, suka ada aja perubahan kebiasaan saat travelling. terutama saat ke luar kota, Mulai perubahan pola tidur, perubahan pola makan, sampai perubahan pola buang air.

Seringnya sih saya atau suami jadi suka ngalamin sembelit kalau lagi travelling gitu. Kadang-kadang kami suka ga merasakan gangguan ini sih. Maklum lah, kalau lagi libur kan asyik-asyik aja nikmatin suasananya. Cuma, kalau sudah 2-3 hari gitu rutinitasnya terganggu, ya ga nyaman juga euyy. Perut jadi terasa ga nyaman. Mau makan banyak juga rasanya kog terasa penuh terus.

Walau udah minum air putih yang lumayan, sepertinya faktor stres ringan berada di tempat yang ga biasa, berhadapan dengan orang-orang baru, suasana baru, bisa jadi penyebabnya.

Inget-inget ada sekotak sari lidah buaya sugar free, biasanya ampuh untuk mengatasi gangguan pencernaan. Udah lah akhirnya cuss cari di salah satu midi market. Lihat-lihat di rak herbadrink ini ada varian lainnya, macam sari jahe dan temulawak. Tergoda mau beli juga, tapi akhirnya fokus sama lidah buaya aja dulu ahh.



Kalau lagi ke luar kota gitu emang agak susah sih untuk tetap menjaga pola makan. Kadang perubahan suasana, perubahan tempat, lokasi, membuat ada perasaan ga nyaman. Ini bisa jadi juga salah satu yang menyebabkan sembelit. Setelah konsumsi si lidah buaya ini, perut jadi adem dan lebih enakan. 

Kuncinya sih harus tetap menjaga asupan cairan plus sayur dan buah. Sayangnya, kalo lagi jalan-jalan road show gitu kan memang agak susah ya. So, stok sari lidah buaya itu perlu juga buat jaga-jaga guys.