Mau Santap Aman? Lakukan & Hindari Ini

Santap Aman
Santap Aman


Ada kah yang pernah mengalami Demam Tifoid, alias Tifus, sampai dirawat di Rumah Sakit (RS)? Anak saya yang kedua pernah. Waktu itu Ferdi masih TK. Panas beberapa hari disertai diare berupa cairan. Saat dicek, dokter meminta Ferdi dirawat di RS karena mulai terlihat lemas. Selama beberapa hari BABnya berupa cairan keruh, berlendir, dan kadang berbusa. Perutnya kadang sakit dan susah makan. 

Menurut dokter, tifus yang diderita Ferdi akibat infeksi bakteri/kuman penyebab tifus yang terkontaminasi dari makanan. Saya sendiri agak heran, kami sebenarnya jarang jajan makanan, kebanyakan ya dimasak sendiri. Sesekali memang ada yang beli di luar kalau sedang tidak sempat memasak, tapi mostly ya dimasak sendiri.

Dokternya memang tidak menyebutkan secara spesifik, cuma menjelaskan bahwa kontaminasi bakteri ini bisa dari apa saja. Kemungkinan karena pengolahan makanan yang kurang hygienis, peralatan makan yang kurang bersih, dsb. 

Saya pun lalu dihantui rasa bersalah, kog bisa anak masuk RS karena kontaminasi makanan? Apa emaknya kurang mampu menjaga kebersihan sampai terkontaminasi bakteri dan membuat anak masuk RS? Huhuhu 😭😭. Walau faktor penyebabnya bisa apa saja, tapi ya tetap saya terus di dera rasa bersalah. 

Sejak saat itu, saya mulai berhati-hati dalam mengolah maupun menyajikan makanan. 

Saya perhatikan sisa-sisa makanan yang menempel di piring makan, harus dicuci sampai tuntas. 

Bolak balik mengingatkan anak-anak dan suami untuk cuci tangan. Nyaris obsesif kompulsif 🤣🤣. 

Tiap kali mau memasak, saya akan bolak balik mencuci tangan, mencuci talenan, mencuci tangan lagi tiap selesai menyentuh daging mentah.

Santap Aman


Belakangan, baru saya tahu, banyak faktor yang menjadi penyebab Tifus, Demam Tifoid.

Pada 11 November 2021 lalu, saya bersama teman-teman Indonesian Food Blogger mendapat kesempatan belajar, mengikuti webinar agar bisa #SantapAman tanpa takut tertular atau terinfeksi kuman/bakteri penyebab Tifus.


Webinar santap aman
Webinar santap aman


dr. Suzy Maria Sp.PD, K-AI menuturkan bahwa Demam Tifoid, atau yang biasa kita kenal sebagai Tifus, merupakan Food Borne Disease, penyakit yang menular dan masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman atau bakteri, biasanya Salmonella Thypii.

Nah, dr. Suzy menjelaskan beberapa hal yang menjadi penyebab kontaminasi, umumnya food handling, baik saat masih mentah, atau sudah matang.

Penyebab kontaminasi makanan
Penyebab kontaminasi makanan

Hindari 7 risiko kontaminasi makanan:


  • 1. Tidak atau lupa mencuci tangan dengan baik 

Himbauan mencuci tangan selalu kita dengar, tapi pada kenyataannya, sering kali kita lupa atau mengabaikan masalah yang satu ini. 

Habis pegang-pegang sesuatu, masuk rumah, lihat makanan, tergiur, lantas main comot 😂. 

Padahal bisa jadi tangan habis pegang body mobil, atau malah habis elus-elus anak kucing yang ketemu di jalan? Tahu sendiri kan kucing suka tidur-tiduran di jalan, rumput, tanah, di mana aja sesuka hatinya, yang bisa jadi ada bekas kotoran. Hiiiy

Atau sehabis dari kamar mandi, lupa cuci tangan lagi dengan sabun, lalu main pegang makanan sembarangan, ya udah, masuk lah si bakteri ke tubuh.

Gak hanya pas mau makan aja lho perlu cuci tangan, saat kita sedang mengolah dan memasak bahan mentah pun, perlu mencuci tangan dengan benar. 

Setelah memegang atau mengolah bahan mentah, ingat-ingat lah untuk mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun, sebelum menghandle bahan mentah lainnya. 

Daging mentah bisa terkontaminasi bakteri, dan bakteri ini bisa pindah ke sayuran atau bumbu yang titik matangnya berbeda, sehingga bakteri tersebut tidak mati.

Penularan Demam Tifoid
Penularan Demam Tifoid



  • 2. Perlengkapan makan yang tidak dicuci bersih.

Kadang, kita merasa sudah mencuci perlengkapan makan dan minum dengan baik, tapi ternyata masih ada sisa-sisa kotoran, atau bekas-bekas nasi kering yang menempel di piring, atau bekas-bekas susu yang menempel di gelas atau botol susu yang tak terlihat. 

Sisa-sisa nasi, susu, atau makanan yang masih menempel di sendok, piring, gelas ini akan berkembang biak jadi bakteri jika tidak dicuci bersih sampai tuntas. 

Coba lah raba dengan tangan untuk merasakan sisa-sisa makanan yang kemungkinan belum sepenuhnya disingkirkan dari piring atau cangkir. Cuci lagi sampai piring, gelas, botol susu, atau sendok garpu yang dicuci benar-benar sudah bersih. Kalau perlu sterilkan lagi piring gelas sebelum digunakan menyajikan makanan.

Kadang yang tricky itu mencuci botol susu atau box penyimpan makanan yang bertutup. Kotoran sisa makanan kadang masih menempel atau menyelip di bagian ulir atau selipan tutupnya. Lihat dan cek baik-baik, bersihkan sampai tuntas. 

  • 3. Memasak Kurang dari Suhu yang Disarankan

Bahan mentah sebaiknya dimasak di suhu minimal 70°c, lebih baik lagi kalau sampai seratus derajat, agar kuman dan bakteri patogen mati.

  • 4. Mencampur Aduk Pengolahan dan Penyimpanan Daging Mentah dengan Sayur dan Bumbu

Dari acara Santap Aman ini saya dapat insight dari chef sekaligus Food Influencer beken, WillGoz, alias Chef William Gozali.

Menurut Chef WillGoz, daging mentah sangat rentan menularkan bakteri, itu sebabnya handling dan pengolahannya tidak bisa dicampur.

Jika hanya punya 1 talenan di rumah, olahlah dulu bumbu dan sayuran, baru daging belakangan. 

Jangan pernah mencampur pengolahan daging dan sayur dalam satu wadah, atau daging dipotong duluan di talenan yang sama. Kecuali rajin mencuci tangan dan talenan setiap kali selesai mengolah daging. 

Kalau mau lebih aman, lebih baik punya talenan dan wadah yang berbeda untuk mengolah daging, untuk mengolah sayur dan bumbu, dan untuk mengolah makanan matang. 

Sering kan tuh kita harus memotong-motong makanan yang sudah matang atau digoreng, potong-potong lah di talenan khusus makanan matang, tidak bercampur dengan talenan yang biasa digunakan untuk mengolah bahan atau daging mentah.

Ingat, daging mentah, baik ayam, sapi, seafood, dsb rentan ditumpangi kuman dan bakteri, dan ini bahaya jika tidak dimasak dengan benar dan berisiko mengkontaminasi bumbu dan sayur, yang titik didihnya berbeda. Bumbu dan sayur kan umumnya kan tidak dimasak pada suhu berlebih, malah kalau mau tetap segar, sayur tidak dimasak sampai layu, berarti kan setengah matang. Coba bayangkan kalau sayur mentahnya terkontaminasi bakteri dari daging mentah, ada kemungkinan ga sepenuhnya mati.

So, perhatikan banget food handling ini saat akan mengolah makanan.

  • 5. Makanan Tidak disimpan pada suhu yang disarankan

Beberapa makanan harus disimpan pada suhu minus untuk mencegah kuman/bakteri berkembang biak. Hal-hal kayak gini harus diperhatikan nih. Misalnya menyimpan daging mentah sebaiknya di dalam freezer, agar kuman dan bakterinya tidak berkembang biak. 

Kalau daging beku sudah diturunkan ke kulkas bawah atau suhu ruang, sebaiknya tidak dinaikkan lagi ke freezer atas, langsung saja diolah, agar daging tidak rusak, karena bakteri akan dengan senang hati berkembang biak ketika daging berada di suhu ruang 😂.

  • 6. Memasak dengan Peralatan yang kurang bersih

Ada gitu yang masak dengan peralatan kotor? Huaaa, jangan salah. Dulu jaman masih SMA, pernah nginep di rumah oom dan Tante, adiknya mama. Si Tante cerita, setiap mereka memasak nasi, ga pernah awet, paling lama cuma sehari, hari berikutnya pasti basi dan mereka terpaksa membuangnya. Yang jadi tertuduh saat itu adalah berasnya, kurang bagus.

Belakangan baru sadar, sepertinya penyebab nasi basi itu ya karena peralatan masaknya. Karena beliau memasak nasi langsung dari panci rice cooker, tanpa dicuci terlebih dahulu, hanya dicuci atau disiram sekedarnya, sisa nasi yang lama masih ada 😭. 

Pengaruh nasi sebelumnya yang bercampur dengan nasi baru ini bisa jadi penyebab nasi basi, ya ga sih? Andai waktu itu saya sudah punya pengetahuan, pasti si Tante sudah saya ingat kan *upps.

  • 7. Penyajian dan Penyimpanan kurang Memperhatikan Kebersihan 

Setelah makanan atau masakan beres, saatnya menyajikan, right? Pada saat ini juga rentan terjadi kontaminasi. Sebaiknya cuci tangan lagi deh sebelum menyajikan makanan, agar jika tangan tak sengaja menyentuh makanan tersebut, tangan yang menyentuh sudah bersih.

Kalau pakai sarung tangan bagaimana? Sebaiknya pakai lah sarung tangan sekali pakai dan jangan pelit memakainya. Jangan setelah dipakai menyentuh makanan mentah, lalu memegang makanan matang dengan sarung tangan yang sama!

Penjual-penjual makanan kadang suka lupa, habis pegang makanan, lupa copot sarung tangan, eh pegang uang (yang entah udah darimana-mana) masih dengan sarung tangan yang sama! Lalu pegang makanan lagi! 

Duuh 😂

Saat menyajikan dan menyimpan makanan, sebaiknya ya ditutup, supaya kuman dan bakteri tidak mudah menempel.

Nah, 7 hal itu perlu diingat, kadang suka luput dari perhatian. Sebaiknya ya dihindari supaya menjauh dari potensi terkena tifus, aka Demam Tifoid. 

Mungkin ada tambahan? Teman-teman advencious mau menambahkan list yang harus dihindari?

Lantas jadi muncul pertanyaan, kalau lagi makan di luar gitu, gimana? 


Sarapan Nasi Uduk
Sarapan Nasi k



Kalau masak sendiri oke lah, bisa deh diingat-ingat yang 7 hal tadi. Tapi kalau orang lain yang masak dan menyajikan, apa bisa kita kontrol?

Apa bisa tahu cara si penjual memotong sayur? Apakah sudah mencuci tangan sebelum mengolah makanan? Steril kah perlengkapan makannya? Apakah penjualnya memisahkan pengolahan daging mentah dan sayur? Apakah penggunaan talenan dan wadahnya dipisah? 

Apakah tangan penjualnya bersih? Sudah kah ybs cuci tangan dengan bersih? Wuaaa, kalau di urut-urut, banyak hal yang jadi pertanyaan pembeli.


Jajan Nasi Uduk Kesayangan
Jajan Nasi Uduk Kesayangan


Memang sulit mengontrol sesuatu yang di luar kuasa kita. Masa gara-gara terlalu parno, lantas mengurung diri, ga jajan atau beli makanan di luar sama sekali? Yakin beneran ga mau jajanan kekinian yang lagi hits?

Suami saya termasuk yang agak parnoan soal kebersihan penjual ini, walau kami sendiri ya ga ragu kog jajan di luar. Sesekali menyenangkan diri sendiri, boleh dong.

Waspada boleh, tapi parno jangan 😂.

Nah, dr. Suzy, dokter penyakit dalam ini kasih tips agar bisa Santap Aman kapan pun di mana pun.

Lakukan 3 Hal Ini Agar Santap Aman


Agar Santap Aman
Agar Santap Aman

  1. Perhatikan Sanitasi dan Higienitas Pribadi

Berhubung sulit mengontrol sanitasi dan higienitas orang lain, ya kita kontrol diri sendiri aja, perhatikan sanitasi dan higienitas pribadi seperti 7 hal yang sudah saya sebut di atas.

Cuci tangan sebelum makan, cuci tangan saat mau mengolah makanan, cuci tangan saat akan memasak makanan, cuci tangan sebelum memegang kemasan makanan, cuci tangan sebelum menyajikan makanan, dsb. 

Waduh, harus rajin-rajin cuci tangan dong? Ya iyes dong kalau mau benar-benar higienis.

Kalau perlu, saat melakukan food delivery, disterilisasi lagi, semprot kemasan makanannya, panaskan sebentar isinya untuk mematikan bakteri yang bisa jadi menempel saat proses pengepakan atau pun saat pengiriman. 

  • 2. Menghindari Kontak

Menghindari kontak? Yess, maksudnya hindari kontak dengan orang yang diduga menjadi Carrier tifus. 

Waduh, kog dihindari? Ya ga dihindari yang gimana-gimana ya, nanti tersinggung lagi. Tapi lebih ke waspada dan menerapkan perilaku bersih. Kalau memang susah menghindar, ya cuci tangan lah yang benar sebelum handling makanan, supaya kuman atau bakteri thypii ini ga menulari kita dan keluarga.

Menghindari kontak ini juga berarti menghindari kontak dengan benda yang berpotensi mengkontaminasi makanan. Menghindari kontak dengan produk yang terkontaminasi, dsb.

  • 3. Vaksinasi
Ada vaksinnya?

Ada dong. Vaksin Tifoid merupakan salah satu vaksin yang dianjurkan pemerintah, mengingat Indonesia merupakan daerah endemik Tifus. Terutama karena di Indonesia belum ada lembaga yang konsen mengontrol food handling dan tempat makan. Pun orang-orangnya kadang ya masih belum paham banget food handling yang benar. Ga usah jauh-jauh, saya pun masih harus banyak belajar tentang pengelolaan makanan.

Vaksin Tifoid


Vaksin Tifoid bisa mencegah terjadinya infeksi akibat bakteri penyebab Food Borne Disease seperti Tifus.

Vaksin Tifoid bisa mulai diberikan pada anak berusia di atas 2 tahun, dengan rentang kekebalan maksimal selama 3 tahun. Setelah 3 tahun, kekebalan tubuh terhadap kuman/bakteri Thypii ini mulai menurun. Oleh sebab itu, perlu diberikan suntikan ulang setiap 3 tahun.

Apakah orang dewasa juga perlu mendapatkan vaksin Tifoid? 

Oh ya tentu kalau ingin tetap bisa santap aman dan terhindar dari kemungkinan menderita demam tifoid. Walau pun orang dewasa mungkin kekebalan tubuhnya lebih tinggi dibanding anak-anak, tetap saja punya risiko tertular. Pun jika sudah pernah menderita Tifus sebelumnya, bukan berarti tubuh lantas bisa otomatis kebal. 

Demam Tifoid bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Bisa terjadi kebocoran lambung, kehilangan kesadaran akibat bakteri yang bisa menginfeksi otak.

So, kalau mau Santap Aman, ya better suntik vaksin dulu, biar lebih tenang dan aman mau jajan di sana sini pun 😂. Mau kulineran atau ngestrit pun daya tahan tubuh sudah terlatih dan lebih kuat menghadapi si kuman Thypii.

Nah, gimana teman-teman, sudah mulai gatel mau nongki sana sini, jajan ini itu?


Santap Aman di Restoran



Biar bisa santap dengan aman nyaman, vaksin dulu yuuk.

Teman-teman bisa cari info lebih lanjut tentang vaksin di IG @KenapaHarusVaksin. 

Oh ya, rekaman edukasi #SantapAman juga ada di feed IGTV @KenapaHarusVaksin kalau butuh info lebih detail.

Selamat Santap Aman. 

Jangan lupa, hindari 7 hal yang saya sebutkan di atas ya, dan terapkan 3 hal yang disarankan dr. Suzy Maria, agar tetap bisa menikmati Santap Aman, kapan pun, di mana pun.

27 comments

Armita said...

Betul sekali sebagai ibu tentunya kita perlu memastikan apa yang dikonsumsi anggota keluarga itu aman, sehat, ya mba biar terhindar dari segala penyakit.

Indah Nuria Savitri said...

sering kali kita lupaaa ya mba untuk cuci tangan dengan baik dan benar hehehe.. soalnya udah keburu lapar atau semangaaat untuk makan. Stay healthy everyone

bundayati.com said...

Ya ampuuun bener2 ya harus jaga kebersihan dengan baik karena si bakteri lebih pinter dari kita. Dia mengintip dengan jeli keteledoran kita. Md2an kita semua, anak2 kita terhindar dari bakteri yg menyakit Tifoid ini. Insya Allah.

Tanti Amelia said...

Iya nih aku pernah loh makan di warung langganan dan.... miki mouse lewat dengan santai di depan... abis itu kapok deh sekapok kapoknya buat jajan di warung yang "ga aman"

cek dan ricek dulu sebelum jajan ya May

Dee_Arif said...

saya termasuk sering terkena penyakit tifus mbak
Kalau dihitung-hitung sudah 4x kena tifus
mungkin baiknya saya segera vaksin tifoid ya, soalnya saya juga sering jajan di luar

Suciati Cristina said...

Anak2 nih suka lupa cuci tangan. Main hajar bleh ajaaa hhuhuu.. apalagi pandemik gini kan parno ya mba. Nambah dibilang bawel deh emaknya 😁
Rice cooker selalu dicuci bersih dulu, alhamdulillah 😍 ternyata ada ya mba yg kayak gitu, cuma siram air panas.
Vaksin tifoid ya mba, nanti mau cek ah.

nchie hanie said...

Waah, ngeri yaa kalo dipikir-pikir kita kulineran di luar tuh, tapi kadang suka enyaak, hahaa.
bener banget Mak tips2nya. Kalo aku pun suka milih2 tempat juga dan suka langganan di situ yang terjamin kebersihannya. Tapi ga tau juga kan namanya virus.

Ah, memang baiknya divaksin agar lebih tenang.

Mugniar said...

Typhus ini masih banyak ya di Indonesia .. benar-benar urusa kebersihan gak boleh lalai. Terima kasih nih Mbak Maya, artikelnya, saya jadi diingatkan kembali.

Tian Lustiana said...

Kalau kulineran ke luar saya selalu bawa alat makan sendiri, minimal sendok, garpu dan sedotan sendiri. Ah makin ngeri memnag kalua kita lalai.

Dian Restu Agustina said...

Noted...akan 7 hal saat menyiapkan makanan dan 3 yang mesti diperhatikan dari sisi kesehatan saran dokter. Aku tersadar, beberapa belum aku lakukan, seperti tentang talenan huhuhu. Bagus sekali edukasi seperti ini. Siapa saja pasti mau santap aman nyaman kan? Apalagi kalau terlindungi dengan vaksin yang sesuai!

dedy oktavianus said...

udah paling beneremang vaksinasi typhoid, jd gak was-was makan emperan

Sapamama said...

Kalau aku memang lebih memilih untuk masak sendiri sih mba, agar bahan baku dan proses masak terkontrol. kalau perlu beli aku pilih tempat yang jelas punya standar kebersihan yang terjaga.

Milda Ini said...

Orang awam di tempat kami suka bilang kalo sakit typus itu salah satu penyebabnya adalah tikus akibat makanan atau perlengkapan makan yang kurang bersih dan dijilatin atau dimakan tikus. Ada virus tikus di sana. Hehehe. Di sadari apa gak meski itu pernyataan awam. Salah satu penyebab typus ya karena kurang bersih dalam mengolah makanan juga serta alat makannya gak bersih ya

Witri Prasetyo Aji said...

Menjaga kebersihan itu penting apalagi soal makanan. Noted nih Mbak, sebelum dipakai lagi semua harus dicuci benar2 bersih yak, soal rice cooker ini juga, kadang cuma pada asal siram aja.

aurabiru said...

Beneran deh urusan cuci tangan ini sering lupa habis pegang apa, main nyomot makanan aja. kadang sih cuma lap aja, tapi lebih afdol kan cuci tangan pakai sabun ya mbak

lendyagassi said...

ari tetap waspada.
Di zaman pandemi begini banyak sekali virus mengintai. Selain jaga kebersihan dan memerhatikan cara memasak juga senantiasa mencari tahu manfaat dari vaksin.

Eskaningrum said...

Untuk hidup sehat memang banyak banget yang perlu diperhatikan ya Mbak. Bahkan terkadang sudah berusaha sebaik mungkin pun, masih adaaa aja yang luput akhirnya terkena sakit deh.

Untuk tipus ini, bener banget kalau kita mengolah & menyajikan makanan di rumah masih bisa lah kita perhatikan aspek kesehatannya. Nah kalau sudah jajan di kaki lima itu tuh modal bismillah aja lah semoga sehat. Haha. Setuju, vaksin tifoid perlu dipertimbangkan agar mencegah tubuh terkena tipus.

Liswanti Pertiwi (PenaLiswanti) said...

Jadi ingat waktu anakku tifus karena bakteri juga dari makanan mba. Setelah itu aku beneran harus ekstra menjaga kebersihan. Kalau ada vaksin tifoid ini bisa jadi solusi nih.

Lidya Fitrian said...

Kadang ada yg mau masak ga cuci tangan padahal itu penting banget ya mbak. Semoga aja kita ga lupa termasuk para penjual juga supaya aman pelanggannya.
Cuci tangan seperti sepele tapi penting

Mporatne said...

Dari tangan kita bisa berjuang agar anak dan suami terhindar dari penyakit tipes. Kasian kalau mereka sampai sakit dan kita juga repot mengurusnya

Cindy Vania said...

jujur baru tahu ada vaksin tifoid nih aku. dan iya penyebabnya ga cuma dr pas masaknya aja ya, ada banyak banget yg bikin terjadinya kontaminasi bakteri ini mba

Adriana Dian said...

Kalo makan di luar nih emang masti pilih-pilih banget ya Mak.. Harus perhatiin kebersihan resto dan makanannya juga.. Jangan sampe kita kena tifoid karena nggak teliti dan hati-hati ya.. huhuhuhu

Utie Adnu said...

Harus bngt y mba vaksin Tifoid itu.. gk nyangka deh dari makanan yg sudah matang pun bakteri bisa Ada entah itu dari wadah arau prosesnya juga

Nathalia DP said...

Tipsnya mantap banget mbak... Harus selalu diterapkan di rumah nih... Tapi memang sulit sih kalau makannya di luar... Memang lebih vaksin biar aman...

Indah Nuria Savitri said...

kalau bicara tifus, beberapa dari anggota keluarga sudah pernah kena dan kita memang harus extra jaga kesehatan yaaa mba, termasuk dengan vaksin

Syarifani said...

Aku paling sebel sama penjual makanan yang motong-motong makanannya abis gitu megang duit. Walaupun sebelumnya tangan udah di lapin di serbet.
Kan ngga ada gunanya cuma lap tangan di serbet, agar bersih pas megang duitnya doang. Mana tahu kuman di dari uang pindah ke tangan terus pindah ke makanan yang dijual. :(

Harusnya bagian kasir disendirikan, biar steril paling ngga.

Jadi inget WillGoz pernah ingetin di YouTubenya masalah talenan ini, memang harusnya dipisah atau potong sayur, bumbu baru yang mentah-mentah

Matius Teguh Nugroho said...

Puji Tuhan belum pernah kena tipes, mbak. Padahal aku juga nggak higienis-higienis banget. Tapi nggak terus jadi alasan buat menyepelekan kebersihan makanan sih daripada berabe. Vaksin Tifoid adalah jalan ninja kita!