Tetap Travel & Kulineran Saat Pensiun

Kalau ada yang nanya, jika nanti pensiun, apakah akan tetap travel & kulineran sesering sebelum pensiun?

Pensiun Impian
Pensiun Impian


Pensiun Bahagia Impian

Mungkin saya akan jawab, saya mau menikmati masa pensiun dengan bahagia, nyaman, wealthy, travel dan kulineran bersama suami kapan pun di mana pun, tanpa batas waktu, tanpa dibebani kewajiban cari uang, punya uang cukup untuk biaya hidup sehari-hari, tanpa membebani anak - cucu.

Dulu jaman anak-anak masih kecil, rasanya seperti tak punya waktu buat diri sendiri dan pasangan, kalau jalan rombongan, rempong urus anak yang sibuk lari sana sini 🤣. Judulnya aja traveling, tapi tetap rempong 🤣.

Jadi pengennya kalau dah pensiun ya menikmati masa tua yang tanpa kerempongan. Travel berdua suami. Atau naik haji berdua suami?

Tetap bisa mempertahankan gaya hidup, bisa travel dan kulineran saat pensiun, tanpa memikirkan hari, jatah cuti, weekend or weekday, tanpa batasan waktu, tanpa dikejar-kejar deadline 😂.

Ngayal ga sih, saat pensiun tetap bisa sering-sering travel dan kulineran asyik seperti itu bareng pasangan? 


Kondisi Pensiun

Jika menyebut kata pensiun, pikiran melayang ke orang-orang yang sudah berusia sangat "matang" (kalau ga bisa disebut tua), tak bekerja, tak punya sumber penghasilan tetap tiap bulan. 

Sering denger ucapan "wah aku dah ga bisa pergi-pergi atau jajan-jajan lagi, maklum, pensiunan". Benar kah pensiunan identik dengan ekonomi dan kondisi keuangan pas-pasan? 

Usia pensiun identik dengan dana pas-pasan untuk biaya hidup, tak punya penghasilan memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena sudah tak produktif lagi. Yang lebih menyedihkan kalau udah pensiun, dana pas-pasan, sakit-sakitan pula karena kondisi kesehatan yang menurun drastis *huuufff. Kondisi ini yang membuat pensiunan identik dengan kondisi keuangan yang memprihatinkan. 

Atau ada juga yang sampai usia pensiun masih harus mencari nafkah, jika tidak, tak ada yang akan membiayai, tak punya cukup dana untuk membiayai hidup sehari-hari.

Tak jarang, pensiunan terjebak dalam pusaran sandwich generation. Ketika memasuki usia pensiun, anak-anak sudah dewasa, menikah, punya anak, dsb. Anak-anak yang kini berganti produktif, punya sumber dana untuk membiayai hidup sehari-hari. Mereka lah yang kemudian berganti membiayai kehidupan kedua orangtuanya. 

Tapi apa iya semua begitu? Jadi pensiunan yang belum bisa berleha-leha menikmati hari tua karena memikirkan dana untuk kebutuhan sehari-hari?

Kecuali pensiunnya sebagai pegawai negeri yang tetap dapat dana pensiun.

Pola membiayai atau memberi nafkah orangtua seperti sudah umum dan jadi hal yang biasa terjadi di masyarakat ya. Ada semacam "balas jasa", dulu kecilnya dibesarkan dengan segala biaya dan upaya, jadi ketika anak-anak sudah mampu mencari nafkah sendiri, bergantian anak-anak yang memberi nafkah pada orang tuanya. Benar kah begitu?

Padahal, kalau bisa ya mata rantai sandwich generation gini diputus. Bukan kah lebih enak menikmati masa tua tanpa jadi beban anak cucu? Kalau bisa, kita sebagai orangtua tetap mapan dan mandiri secara ekonomi, malah kalau bisa sesekali tetap bisa traktir anak cucu.

Untuk bisa menikmati masa pensiun dengan nyaman, punya dana pensiun yang memadai seperti itu, ternyata juga bisa didapatkan oleh pegawai biasa, bukan hanya pegawai negeri. 

Pegawai swasta mau pun Freelancer seperti saya dan teman-teman blogger atau pun teman-teman content creator yang pendapatannya ga menentu pun bisa menikmati "uang pensiun".

Wah bagaimana caranya?

Alokasikan Dana Pensiun

Sekarang ada yang namanya DPLK, Dana pensiun lembaga keuangan. DPLK ini lah yang mengumpulkan dana tiap bulan untuk dikelola sampai dicairkan saat pekerja pensiun. 

Dulu, almarhum papa saya bisa punya dana pensiun walau pun pegawai di sebuah perusahaan swasta. Menurut papa, dulu ada alokasi dana yang dipotong dari gajinya tiap bulan. Jadi ga heran, ketika papa pensiun, punya dana yang lumayan, kalau ga salah saat itu dapat dana pensiun sekitar 300juta (tahun 2000). 

Bukan hanya pegawai swasta, para profesional dan freelancer pun bisa punya dana pensiun.  

Salah satu lembaga keuangan yang mengelola DPLK adalah Manulife Indonesia, atau biasa dikenal sebagai #DPLKManulife

Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Manulife Indonesia merupakan badan hukum yang didirikan PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia untuk mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun berdasarkan landasan hukum dana pensiun yaitu Undang-undang Nomor 11 tanggal 20 April 1992 serta peraturan pelaksanaannya. 
DPLK Manulife Indonesia telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Keuangan, No. KEP-231/KM.17/1994, tanggal 5 Agustus 1994.

Performa DPLK Manulife Indonesia tetap bertahan di posisi tertinggi untuk DPLK Multinasional di Indonesia dengan total aset kelolaan DPLK sebesar Rp 21 miliar dan pertumbuhan yang meningkat sebesar 14% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Hingga akhir 2020, program DPLK Manulife Indonesia sudah diikuti lebih dari 570.000 peserta dan 2.300 perusahaan. 

Jika sebuah perusahaan mengikutkan dana pensiun bagi karyawannya, maka kelak si karyawan akan mendapatkan dana pensiun sejumlah tertentu, sesuai dana yang diikutkan DPLK tiap bulan.

Jadi, bukan hanya pegawai negeri saja yang bisa punya pensiun, pegawai swasta pun sudah bisa punya pensiun.


Kapan Sebaiknya Ikut DPLK?

So, siapa pun ternyata bisa punya dana pensiun, asal tahu cara mengelola dananya. Semakin awal, atau semakin muda usia saat mengikuti DPLK, maka akan semakin besar pula dana pensiun yang kelak akan diterima pada usia "pensiun" tertentu. 

Yes, penetapan usia pensiun dan besaran jumlah dana yang dialokasikan untuk dana pensiun di DPLK bisa berbeda-beda. Seperti yang diilustrasikan mba Chitra, saat blogger Gathering Rahasia Pensiun Bahagia pada pertengahan Desember 2021 lalu.

Ilustrasi Dana Pensiun
Ilustrasi Dana Pensiun DPLK

Ternyata, makin muda ikut DPLK, makin tinggi dana pensiun yang akan didapatkan. 

Kalau lihat ilustrasi di atas, si pegawai ikut Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) saat berusia 25 tahun dengan menyisihkan dana sebesar Rp 400ribu tiap bulan. Perkiraan saat pensiun di usia 55 tahun dengan Dana Pensiun sekitar Rp 1,63 Miliar. Wow bukan?

So, mumpung masih muda-muda, Yuuk manage keuangan.


Apa bedanya menabung sendiri dana pensiun, dengan ikut DPLK?

Menabung dana sendiri buat dialokasikan sebagai dana pensiun bisa saja dilakukan, tapi umumnya, menabung sendiri punya resiko akan terpakai sewaktu-waktu, karena cenderung dianggap punya dana cair yang mudah digunakan.

Merujuk ilustrasi di atas, kalau nabung sendiri per bulan Rp 400ribu selama 30 tahun, totalnya hanya Rp 144juta 😂. 

Kalau dialokasikan khusus untuk dana pensiun di DPLK, uang tersebut tidak akan bisa digunakan selama sekian tahun sampai usia pensiun yang diinginkan. Di sisi lain, juga ada perkembangan saldo sebesar 7% tiap tahun sebagai bonus dari pengelola DPLK Manulife. So ga heran, dari ilustrasi di atas, dana pensiun yang di dapat bisa sampai Rp 1,63 M. Lumayan kan?

Kalau menabung sendiri belum tentu dapat pengembangan dana, resiko pula uang terpakai karena terasa mudah mengeluarkannya 😂


Time Flies

Waktu terus berjalan, ga kerasa. Saking asyik kerja, tahu-tahu masuk usia pensiun dan ga punya persiapan apa pun. Waktu pandemi udah 2 tahunan aja ga kerasa kan? 

Yes, kita udah menjalani pandemi selama 2 tahun pun ga terasa. Saya dah jadi blogger lebih dari 15 tahun aja ga terasa 😂. 

Anak-anak beranjak besar pun ga terasa, tahu-tahu si sulung udah mau 20 tahun tahun depan 😂. Dan saya masih belum sadar mau punya dana pensiun? Astagaaa, ke mana aja akoooh? 😂

Ya begitulah, ketika enjoy menikmati kerjaan, tahu-tahu waktu berjalan, anak-anak bertambah dewasa, usia produktif yang terus berkurang. 

Better memang bersiap-siap sejak muda. Supaya punya cukup waktu dan cukup dana untuk persiapan dana pensiun, agar nantinya tetap bisa travel dan kulineran seru ke mana aja dan kapan aja bersama pasangan 😍

Liburan Bersama Pasangan

 #semakinharisemakinbaik

26 comments

Rudi G. Aswan said...

Asyiknya kalau bisa terus harmonis sampai usia senja ya Mbak, tetap kondusif buat kulineran dan pelesiran walau udah pensiun. Terima kasih insight-nya.

Sapamama said...

Impian masa tua kayak geng Golden Girls, biar usia dikata tua tapi tetap cetar membahana, hehehe... Nah, untuk mendukung itu harus memanajemen keuangan dengan baik ya mba, utamanya dana pensin untuk kita yang freelancer gini.

Bunda Erysha (yenisovia.com) said...

Sama bun. Aku juga pengen hari tuaku berkah bersama pasangan. Bisa jalan jalan dan kuliner bareng ama pasangan. Tapi harus mikirin kewajiban cari uang. Jadi penting banget ya buat nyiapin dana pensiun. Soalnya aku dan ayahnya anak anak ga pengen kami di hari tua suka minta dan ngerepotin anak. Cukup kami aja generasi sandwich. Anak kami jangan sampai ngerasain. Kasian

gustiyeni said...

Perencanaan keuangan untuk masa tua penting supaya kelak di masa tua bisa tetep.bahagia dan eksis jalan2 maupun kulineran.

Ainhy said...

Perencanaan Keuangan di masa hari tua memang perlu, saya sangat setuju sekali. Jadi kalau dimasa tua tdk lagi merepotkan anak atau orang yg kita sayangi.

Firsty Ukhti Molyndi (Molzania) said...

Impian semua orang kayaknya nih pas pensiun bisa tetep kulineran dan travelingm tapi masalahnya usia pensiun juga sakit2an tuh mbak. Nah loh? Xixii..

Damar Aisyah said...

Salah satu cita-citaku nanti, kalau udah tua anak dah gede2 penginnya bisa traveling berdua sama suami. Untuk itu tentunya memang harus disiapkan sejak sekarang. Selain sehat juga amannya punya tabungan hari tua atau pensiun mandiri karena kami berdua bukan pegawai pemerintah.

Helenamantra said...

Iyaa mbak, lewat DPLK gini enggak berasa menabungnya. Eh lebih tepatnya semacam investasi juga sih karena dana kita diputer jadi dapat hasil yang lumayan dalam jangka panjang. Waktu resign aku kaget lho dapat DPLK yang lumayan. Ternyata selama ini gajiku dipotong sekian buat DPLK.

Ruli retno said...

Suka banget nih aku konsep meski pensiun tetep bisa kulineran dan traveling. Suamiku pun kayanya tiap bulan potong gaji buat dana pensiunp

Widyanti Yuliandari said...

Cita2 pensiun dengan bebas finansial. Masih sehat dan traveling bareng suami. Apalagi kalau bisa punya properti di setiap kota besar. Uuulalaaa. Sedepppp. Sekarang dikit2 mulai dirintis deh.

Dewi Rieka said...

Iya, rasanya pensiun masih lama dan ternyata tiba-tiba di depan mata, memang harus dipersiapkan sejak dini ya biar tidak menyusahkan anak kita kelak

Rach Alida Bahaweres said...

Sejak ini aku berusaha untuk alokasikan dana pensiun mba. Jangan sampai terlena dengan kondisi sekarang yang sehat dan ngerasa masih muda. Makasih mba sudah mengingatkanku pentingnya siapkan dana pensiun sejak dini

April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com said...

Ini kabar menarik buat freelancer kyk aku yang emang gk ada jaminan dana pensiun kecuali mau menyisihkan nabung buat dana pensiun ya mbak.
Emang kudu dipaksain buat masa tua yang insyaAllah baik dna gak ngrepotin org lain.

Antung apriana said...

alhamdulillah ya mbak sekarang ada DPLK ini jadi mereka yang bukan pegawai negeri juga bisa mengumpulkan dana pensiunnya buat bekal di hari tua

Siti Hairul said...

Harapan kita semoga saat usia pensiun tetap sehat dan bisa jalan-jalan ya mbak. Harus mulai menyisihkan nih untuk dana pensiun

lendyagassi said...

Impian banget yaa..
Menikmati masa tua bersama keluarga yang adem ayem dan bebas dari pikiran finansial. Kudu banget direncakan dengan baik. Bersama DPLK Manulife Indonesia, kebayang yaa.. kemudahannya.

Dee_Arif said...

Aku juga pengen seperti itu mbak
Bisa menghabiskan masa tua bersama pasangan dengan jalan jalan dan kulineran
Klo mw terwujud harus disiapkan mulai dari sekarang ya

Hidayah Sulistyowati said...

Nah sama nih mbak, pengen bisa pensiun dan tetap traveling bareng suami. Apalagi aku udah usia kepala 5 kudu lebih berhati-hati mengeluarkan duit untuk hal penting aja. Investasi di dana pensiun gini bisa gak sih dimulai meski udah usia 50 an, hihii

Sri Widiyastuti said...

Iya mbak, semua harus direncanakan dengan matang yaa. salah satunya mempersiapkan dana pensiun, agar saat tua kelak kita tetap memiliki bekal yang bisa dipergunakan sehari-hari dan tentu saja jalan jalan bareng pasangan ya mbak. tanpa nyusahin anak anak

Milda Ini said...

Nah, iya hihihi godaan banget ya kalo punya tabungan, dianggap punya simpanan dna kadang suka lupa buat stop gak royal, hehehe

Andiyani Achmad said...

yes it is a good news for all freelancer ya... dana pensiun tetap bisa disiapkan dan bisa menjadi tabungan di masa pensiun nanti. hidup pun jadi nyaman dan bahagia

Mirna Rahayu said...

Waduh iya ya mba instrumen yang dipakai kudu tepat dan emang sih dari pas muda muda gini mulainya, aku niatnya mulai ngurusin dana pensiun pas usia 30 aja, bisa ga ya wkwkwk. masih pengen jajan huhuhu

Sekolah Parenting Harum said...

Masyaallah, Makasih sudah diingatkan mbak. Menyiapkan dana pensiun memang harus sejak dini ya jadi nanti bisa menikmati masa lansia dengan bahagia. Apalagi sebagai pasangan yang sama-sama berwirausaha kalau gak ngumpulin sendiri dapat darimana

Wiwied Widya said...

aku sebenarnya agak nyesel, kenapa umur segini baru nyadar buat nyiapin dan pensiun. Kalau aku mulai siapin dari awal kerja dulu kan mungkin aku bisa pensiun lebih cepat ya. Tp nggak apa lah, lebih baik terlambat daripada t idak sama sekali.

Nunung Yuni Anggraeni said...

Cita citaku banget nih mbak pensiun masih bisa jajan jajan dan traveling. Semoga bisa yaaa.

Kantor pak suami juga udah ikut DPLK tapi baru sekitar 11 tahunan lalu..yaah hitung hitung nyicil uang pensiun ya mbaak.

Dzulkhulaifah said...

Jadi reminder nih buat aku untuk mempersiapkan dana pensiun dari sekarang. Biar hari tua nggak ngerepotin siapa-siapa ya, Mbak.