Hunting Rumah Bekas? Ini Tipsnya

Berburu rumah alias hunting rumah itu biasanya selalu seru. Kalau ada yang bilang, mencari rumah itu ibarat mencari jodoh, cocok-cocokan, ya memang begitu adanya.

Menemukan rumah yang cocok untuk dihuni itu gampang-gampang susah, karena kita tidak tinggal sendiri di sana, kita juga perlu mempertimbangkan kebutuhan keluarga, so perlu tips dan trik juga supaya bisa menemukan rumah yang tepat.

Bener loh, nyari rumah yang cocok dengan yang kita inginkan itu memang gampang-gampang susah. Menemukan rumah yang benar-benar fit, sesuai dengan kemauan kita itu agak mustahil, ga bisa full 100% sesuai. 

Pasti ada aja hal-hal yang terpaksa kita abaikan, terpaksa ngalah karena udah pusing hunting sana sini πŸ˜… *pengalaman pribadi 🀣

Misalnya nih, udah cocok sama rumahnya, cocok sama viewnya, cocok budgetnya, tapi ga cocok lokasinya, daerah macet, jauh dari fasilitas transportasi. Repot kan?

Udah cocok semua, wilayahnya dekat ke mana-mana, fasilitas transportasi mudah, dekat akses publik, daerah bebas banjir, eh ga cocok harga 😭😭, endebra-endebra.

Udah cocok sama rumahnya, udah cocok harganya, akses transportasi gampang, tapi daerah rawan banjir. Wis lah melipir.

Cocok satu dua kriteria, tapi ga cocok di kriteria lainπŸ˜‚. Nah yang repotnya kita ga bisa berharap mendapatkan rumah yang benar-benar sesuai kriteria, pasti ada aja kurangnya. 

Siapa yang pernah mengalami hunting rumah dan pusing kayak gitu? Entah rumah baru atau rumah bekas. Pasti ada tricky-nya yaa.

Nah, buat teman-teman yang sedang hunting rumah bekas, ini sedikit tips. Semoga bisa berguna.

Hunting Rumah
Hunting Rumah


Tips membeli rumah bekas

Ada banyak hal yang harus kita perhatikan ketika membeli rumah bekas, ini supaya jangan sampai menyesal beli rumah karena kerugiannya bukan hanya berupa uang jutaan, tapi juga kenyamanan. 

1. Beli dari tangan pertama

Cara terbaik membeli rumah bekas ya langsung berhubungan dengan pemilik rumah, tanpa perantara. Bukan cuma supaya dapat best price, jauh lebih murah, bisa nawar langsung, ga perlu ngasih komisi, tapi juga supaya bisa tahu persis kondisi rumahnya, bisa tanya-tanya sepuasnya tentang riwayat rumah tersebut. 

Kalau beli sama perantara atau broker, sulit mendapat informasi akurat, nanti jadi serba katanya πŸ˜‚

2. Pilih broker yang tepat

Tapi, jika karena kondisi tertentu, ga memungkinkan hunting rumah sendiri, terpaksa membeli rumah melalui jasa broker, pilihlah broker yang terpercaya. Sekarang kan banyak tuh bertebaran agen-agen properti, pilih yang kredibel ya, supaya ga beli kucing dalam karung.

Minta deh referensi broker properti dari teman-teman atau saudara yang sudah pernah pakai jasa agen properti gini. Kalau ga ada, ya pilih yang sudah terkenal reputasinya, punya kredibilitas baik.

Broker akan membantu proses pengurusan dokumen jual beli rumah termasuk saat pengajuan KPR seandainya ada rencana beli rumah dengan cara nyicil ke bank.

3. Tanyakan usia bangunan 

Ini penting menanyakan usia bangunan, karena hubungannya dengan ketahanan bangunan dan pertimbangan apakah bangunan tersebut masih bisa dipertahankan atau kah harus segera direnovasi. 

Ga mau dong kejadian rumah rubuh saat baru ditempati 2-3 tahun, misalnya.

Kelompokkan usia bangunan rumah. Misalnya, rumah baru (kurang dari 10 tahun), sedang (10 s/d 20 tahun) dan tua (lebih dari 20 tahun).

Oh ya, yang ga kalah penting, tanya juga apakah rumah tersebut pernah direnovasi, jika pernah, kapan renovasi terakhir. Ini penting juga untuk mengukur ketahanan bangunan. Namanya rumah bekas ya, bisa aja yang usia tua sudah keropos dan dimakan rayap.

Yang perlu diingat, semakin tua usia bangunan, performanya akan semakin menurun. Harus punya anggaran lebih untuk merenovasi rumah tersebut.

4. Pertimbangkan Lokasi rumah

Ya sama dengan membeli rumah baru, tips yang satu ini juga berlaku untuk membeli rumah lama. Lokasi rumah sangat menentukan segala aspek kehidupan. 

Pertimbangkan beberapa hal ini:

* Akses transportasi dari lokasi rumah yang mau dibeli dengan tempat kerja atau usaha

* Kalau bisa, pilih yang minim macet (kalau di Jabodetabek agak susah ya πŸ˜‚)

* Cek deh bolak balik lokasi rumah tersebut untuk menghitung waktu dan jarak tempuh

5. Periksa kondisi fisik bangunan 

Penting banget nih mengecek secara detail kondisi fisik rumah, tiap bagian-bagiannya. Bila perlu, buat deh checklist supaya lebih mudah saat melakukan pemeriksaan. 

Lebih bagus lagi kalau kita ajak kontraktor untuk menilai kondisi rumah tersebut. Pertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

* Kondisi struktur rumah, apakah ada kereta di pondasi, dinding, kolom, dan balok

* Cek flek-flek bekas rembesan air tanah di dinding

* Apakah kualitas lantai masih baik atau sudah mengalami penurunan atau retak-retak?

* Periksa kondisi kusen, jendela, pintu, plafon, barangkali ada bekas serangan rayap

* Pastikan struktur atap masih dalam kondisi baik. Lihatlah barangkali ada balok/gording yang keropos, atau ada kebocoran serius pada talang

* Jangan lupa cek kondisi jaringan listrik PLN, masih baik atau sudah awut-awutan

* Apakah kualitas airnya masih layak? Cek pula jaringan air apakah masih dalam kondisi baik

* Jangan lupa merasakan ruangan, apakah segar, lembap, atau malah terasa gerah?

6. Cek lingkungan sekitar rumah

Sebagai calon penghuni rumah, kamu harus memiliki informasi tentang kondisi lingkungan sekitar, terutama bila rumah itu hendak ditempati bersama keluarga. Jangan sampai menyesal beli rumah karena ternyata lokasinya sulit diakses, jauh dari sarana pendidikan, rawan kejahatan, atau sering kebanjiran.

7. Cek dan ricek dokumen kelengkapan rumah

Nah ini hubungannya dengan legalitas. Cek detail keaslian sertifikat rumah (SHM), sertifikat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), bukti Pajak Bumi Bangunan (PBB), dan cross check semua dokumen tersebut.

Bila nama yang tertera pada dokumen tidak sama dengan nama penjual rumah, tanyakan status hubungannya. Bila belum dilakukan proses balik nama, minta Akta Jual Beli yang sah atas rumah itu.

Tanyakan juga, berapa banyak ahli waris sahnya bila rumah tersebut berstatus harta warisan. Poin ini perlu digaris bawahi supaya tidak terjadi masalah sengketa dan sebagainya.

8. Cek harga

Jangan lupa rajin cek harga pasaran tanah dan rumah di sekitar lokasi yang diincar. Tujuannya ya supaya bisa melakukan penawaran dalam kisaran harga yang wajar. Ini penting bila hendak membeli rumah untuk dijual lagi.

Kalau teman-teman mau berhitung-hitung harga rumah bekas beserta KPRnya (kalau mau pakai KPR ya), bisa loh cobain kalkulator harga rumah atau kalkulator hipotek.

9. Lihat sumber air

Seseorang membutuhkan sekitar 10 galon air bersih untuk beraktivitas dalam keseharian. Baik untuk konsumsi, mandi, membersihkan rumah, mencuci baju dan piring, mobil, dan masih banyak lagi. 

Cek sumber air terdekat dari calon rumah, pastikan sumber air ini mengalirkan air bersih yang layak pakai dan dikonsumsi sehari-hari. Lokasi pompa atau sumur artesis yang baik berjarak minimal 10 m dari septic tank di rumah.

Bila jaraknya kurang dari 10 meter, besar kemungkinan airnya tidak layak dipakai karena terkontaminasi oleh kotoran tanah dan limbah WC.

Selain itu, bila rumah bekas menggunakan sumber air berjenis PAM, pastikan si pemilik rumah tidak memiliki masalah tagihan air.

10. Cek ketersediaan dan kapasitas listrik

Daya listrik di rumah tersebut juga perlu kita cek, apakah cukup untuk memenuhi segala peralatan elektronik kalau punya rencana memasang cukup banyak barang elektronik. Bila tidak cukup, bisa menambah daya secara online lewat situs PLN. 

Pastikan juga instalasi kabel dalam kondisi baik demi menghindari terjadinya korslet listrik.

11. Jangan Buru-buru Ambil Keputusan

Membeli rumah merupakan sebuah keputusan besar, jadi rumah mana kah yang akan dipilih, harus dipikirkan matang-matang dengan melihat berbagai aspek, plus minusnya harus dipertimbangkan dengan baik. 

Minimal tujuh hari deh untuk memutuskan membeli rumah. Tujuannya agar lebih yakin sebelum ambil keputusan dan mengajukan penawaran. Mungkin saja ada berbagai aspek yang terlewat dan bisa dirinci ulang. Kalau dulu jurus suami sih gini "sebentar, saya diskusi dulu sama istri ya, nanti saya kabari lagi"

12. Gunakan Skala Prioritas 

Ingat, pertimbangkan dengan matang, karena kita dan keluarga yang akan menetap di situ, kalau bisa ya selama mungkin kan, 30-50 tahun yang akan datang.

Kalau masih ragu karena banyak yang harus dipertimbangkan, coba gunakan skala prioritas. Tentukan hal utama, value apa yang jadi prioritas, poin utama bagi kita dan keluarga.

Apakah mau rumah bebas banjir tapi aksesnya agak jauh? 

Atau mau rumah bebas macet, dekat pusat kota tapi harganya tinggi? 

Atau, gak papa deh agak jauh yang penting lebih murah dan akses transportasi mudah. 

Tentukan, poin mana yang paling penting, hitung-hitung untung ruginya, dari segi biaya dan waktu.

Gimana? Sudah punya bayangan mau beli rumah yang mana? 

Oh ya, kalau mau cek harga atau affordability dalam membeli rumah, bisa gunakan kalkulator hipotek ini, memang rate yang digunakan dalam Euro, tapi secara prinsip sama kog dengan properti di Indonesia, jadi tetap bisa menggunakan kalkulator tersebut.

No comments